A DANCER'S NIGHTMARE part 4

A DANCER'S NIGHTMARE 
Oleh. Anggarani 

Bab 4

Pekan Raya Jakarta malam ini hampir berakhir. Seorang lelaki memandang stand Kampung Betawi dari kejauhan. Matanya tak lepas dari lelaki pembawa kamera yang sedang melakukan jual beli di dalam stand tersebut. Setelah mengamati beberapa waktu, keningnya berkerut, pandangannya terpaku pada seorang gadis berpakaian penari yang berada di sana. Rasa cemas pun muncul di wajahnya. 

Sinar menjauh dari meja tanpa peduli keberadaan Evan. Mata Evan terus mengikuti membuatnya sedikit tidak nyaman. 

"Eh, maap deh ya, Bang. Anaknya emang pemalu. Kaga kaya saya yang malu-maluin. Udah yak, kita mau bebenah lagi nih. Makasih dah udah belanja di mari." Ucap Mpok Romlah membuyarkan keterpakuan Evan pada Sinar.

"Iya, gapapa, Mpok. Titip salam aja ya." Evan pun pergi meninggalkan stand Kampung Betawi, kembali menuju stand kopi milik Fadli. 
Stand milik Fadli tidak beda jauh dengan stand lain yang mulai bersiap untuk tutup.

Semua kru pemotretan masih berada di sana. Rio berdiri dari sofa malas yang ada di dalam stand milik Fadli saat melihat Evan kembali.
"Dari mana aja, Bang?" Tanya Rio saat Evan masuk ke dalam stand. Angel segera menghentikan senda guraunya bersama Fadli.

"Keliling, liat-liat. Terus mampir ke stand Kampung Betawi. " Jawab Evan sambil menunjukkan kantung kertas belanjanya tadi.


"Kita pamit cabut ya, Bang." Raden tiba-tiba berucap saat muncul dari balik stand kopi.
"Abis jalan-jalan juga, Den?" Tanya Evan.
Raden tak menjawab, ia hanya menyambar tas bawaannya yang berada di meja. 
"Kalian bareng Angel lagi?"
"Kita naik busway aja, Bang. Ngga enak sama Angel." Jawab Raden.
Angel hanya tersenyum mendengar ucapan Raden. 

"Bareng gue aja kalo gitu." Usul Evan.
"Gapapa, Bang. Lukman sama Doni bareng saya. Tadi juga dari kosan kita berangkat bareng kok."
"Lo gimana, Rio?"
"Nebeng deh, Bang. Searah juga kan kita." Jawab Rio.

"Oke. Kamu masih mau di sini, Angel?"  
"Hmm..., duluan deh, Bang. Masih sore buat balik ke apartemen." Jawab Angel sambil tersenyum dan memilin-milin anak rambutnya.
"Oke, Bro. Gue balik duluan. Next time kita hang out bareng." Ujar Evan sambil memukul bahu Fadli pelan. 

"Oke. Bener ya, Bro. Gue tunggu." Sahut Fadli sambil berdiri kemudian mengantar sampai pintu stand.

Semua pun berpamitan satu sama lain. Evan bersama Rio berpisah dengan Raden, Doni dan Lukman karena berbeda arah.

Raden, Doni dan Lukman berjalan menuju pintu keluar. Hari ini lumayan melelahkan bagi mereka. Sebagai kru fotografer, mereka adalah kunci kesuksesan bagus atau tidaknya jepretan dihasilkan. 

"Gue ngga nyangka bakal ketemu Bang Fadli lagi." Ucap Doni membuka percakapan. 
"Sama, gue juga." Sahut Lukman.
Raden mempercepat langkahnya tak peduli dengan obrolan kedua temannya. 

"Gue laper nih. Beli apaan yah? Takut tepar sebelum sampe kosan." Lanjut Doni.
"Den, sini dulu bentar. Lu mau beli sekalian ga? Gue juga laper nih."

Panggil Lukman saat ia dan Doni berhenti di depan deretan gerobak tukang kue tradisional. Doni segera memesan kue pancong  yang merupakan salah satu kue khas Jakarta kesukaannya. 

Tukang kue pancong segera mengerjakan pesanan Doni, mengaduk sebentar adonan yang terbuat dari campuran tepung beras, santan kelapa dan juga kelapa yang parut kasar. 

Kue ini juga banyak dijual dengan nama yang berbeda di daerah lain di Indonesia. Ada yang menyebutnya kue gandos dan juga bandros. 
Setelah adonan selesai diaduk, kemudian dituang ke dalam cetakan berbentuk setengah lingkaran yang sudah dipanaskan di atas kompor lalu dibakar di atas api hingga matang. Setelah matang, kue pancong ditambah taburan gula di atasnya.

Berbeda dengan Doni, Lukman memesan kue ongol-ongol yang berada di samping gerobak kue pancong. Kue ini sering dijumpai saat acara khitanan anak yang diadakan keluarga Betawi. Dengan berbahan dasar gula aren dan tepung sagu, ongol-ongol terasa kenyal, manis dan legit di mulut karena adanya taburan kelapa parut di atasnya.

"Tenang, Den. Kalau ada event PRJ kaya gini. Busway standby sampe areanya tutup koq."

Selama menunggu, Raden berjalan mondar mandir tak tentu arah. Doni dan Lukman mengambil pesanan. Doni dan Lukman memutuskan makan saat tiba di halte busway nanti karena sudah tak ada lagi kursi untuk mengganjal perut mereka.

"Tadi kenapa kita ngga nebeng aja sih sama Bang Evan? Kan lumayan daripada lu manyun gara-gara jalan kejauhan kaya gini, Den?" Celetuk Doni melihat tingkah Raden.

"Jangan bilang lu naksir sama Angel ya, Den. Trus lu jealous sama Bang Fadli. Padahal lu udah ngarep banget soalnya Bang Evan ga ada minat sama tuh cewe." Kali ini Lukman yang menimpali.

Setelah agak lama berjalan, mereka pun sampai di dalam halte busway. Doni dan Lukman duduk di bangku halte yang disediakan sambil menikmati kue pancong dan ongol-ongol yang mereka beli tadi.

"Enak ya Bang Evan. Ditaksir sama model-model cantik. Beda sama kita. Tiga tahun ikut dia kaga ada yang nyantol satu pun." Doni tertawa mendengar ucapannya sendiri.


"Heran gue, tapi ga ada yang bisa bikin Bang Evan klepek-klepek yah. Apalagi sejak kejadian ...." Doni menghentikan ucapannya. Ada kilat penyesalan dengan pikiran yang berkelebat di kepalanya.

Lukman memandang Doni sebentar.  Lalu membuang pandangannya ke arah aspal di luar halte. Otaknya pun ikut larut dalam ingatan yang ingin ia kubur sedalam-dalamnya.
Doni memasukkan kembali kue pancong yang berada di tangan ke dalam mulutnya. 

"Lu kenapa, Den?" Tanya Doni. 
"Muka lu mendadak pucet gitu. Mules lu?" Lukman menimpali.

"Cewek itu nongol, Gaes." Jawab Raden yang membuat Lukman dan Doni saling pandang mencoba menerka ucapan Raden. 

Lukman bertanya dalam hati, ia ingat-ingat lagi semua kejadian hari ini. Jelas sekali mereka bersama-sama mulai berangkat dari kosan dan juga saat berada di Kota Tua. Jadi apa ucapan Raden ini semua berkaitan dengan yang Raden lihat saat berkeliling di PRJ tadi?

"Sial." Lanjut Raden sambil menendang-nendang kecil ke lantai halte.

"Cewek yang mana maksud lu, Den?" Tanya Lukman. 

"Monyong lu berdua. Lu pasti tau maksud gue." Raden mendekat sambil menekankan nada suaranya pada Doni dan Lukman.

Doni dan Lukman menatap wajah Raden dengan serius berharap ada canda di sana.

"Gue ngga bercanda!" Raden melanjutkan tetap dengan suara pelan dan menekan. Ia sadar bukan hanya mereka bertiga yang ada di halte itu.

"Orang ngga bersalah jadi korban, Gaes. Lu berdua sadar ngga itu?" Raden menatap Doni dan Lukman secara bergantian, "dan kita cuma diem. Stupid!!!"

"Menurut lu berdua, sampai kapan kita harus nutup-nutupin ulah bejat anak orang kaya itu? Hah???"

~Bersambung~ 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "A DANCER'S NIGHTMARE part 4"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.