A DANCER'S NIGHTMARE Part 3


A DANCER'S NIGHTMARE 
Oleh. Anggarani 

Bab 3

Seorang gadis penari ditemukan dalam keadaan meninggal di sebuah kamar hotel. Kematiannya diduga karena persaingan antar sesama penari ....

Susunan kalimat sebuah media berita on line berkelebat langsung di otak Evan saat mendengar ucapan Fadli. Semua yang berkumpul saat itu pun ikut terdiam. Hanya Angel yang terlihat memicingkan matanya. Sedangkan Rio, Lukman, Raden dan Doni saling pandang satu sama lain karena mereka pun mengetahui dan masih mengingat kejadian itu.

Angel memutuskan menutupi rasa penasarannya saat melihat raut wajah Evan. Dalam hati ia berpikir mungkin gadis yang berada di foto itulah yang membuat Evan menjadi sosok lelaki yang dingin.

"Gue jalan dulu deh. Mau hunting foto, mumpung lagi di sini." Ucap Evan sambil berdiri dari bangkunya.

"Whatsapp, Bro? Kita baru aja ketemu. Trus sekarang lo udah mau cabut?"

"Ngga..., gue cuma mau keliling aja bentar."
Fadli tak bisa menghalangi niat Evan untuk pergi dari tempatnya. Begitupun Angel, gadis itu sadar jika ia memaksa menemani, yang ada ia akan habis diabaikan oleh Evan sepanjang waktu.



Evan terus berjalan. Alih-alih menjernihkan pikiran, kenyataannya ia hanya menjepret sana sini tanpa sebuah ketertarikan. Di matanya saat ini PRJ tak ubahnya sebuah pasar malam. SPG-SPG cantik tak sedikit berpakaian seksi berdiri berjejer di depan stand, menawarkan produk-produk yang mereka pasarkan.

Evan melihat sebuah stand yang bertuliskan Kampung Betawi dengan dua buah ondel-ondel besar di bagian depan. Stand itu dilengkapi panggung kecil dengan alat-alat musik khas Betawi. Salah satu stand yang masih ramai dengan pengunjung. Evan tersenyum melihat tingkah pemain lenong yang ada di atas panggung. Akhirnya ia pun memutuskan berhenti di sana.

Dua orang pemain laki-laki terlihat sedang asyik menghibur penonton dengan banyolan - banyolan mereka.

"Bang..., ngobrol bae dari tadi. Belanja ngapa, Bang. Noh dagangan aye masih berjejer." Ucap seorang pemain lenong perempuan yang tiba-tiba naik ke atas panggung dan menyela. 

"Yaelah, Mpok. Barusan aja kita dateng udah ditodong suruh belanja. Noh penonton yang nongkrong dari abis megrib kaga ditegor-tegor." Sahut salah satu pemain laki-laki.

"Eh, Penonton...." Lanjut pemain perempuan itu dengan tingkah genit menyapa para penonton.

"Oooyy...." sahut para penonton serempak.

"Belanja kaga lo? Udah mo tengah malem inih. Nyawer kaga, belanja kaga..., pada nonton bae. Gue siram aer juga nih!!!"

Penonton semakin bersorak saat pemain perempuan itu berubah nyablak sambil membawa ember seakan benar-benar ingin menyiram mereka.

"Et dah, ribet banget kalo emak-emak ikutan nongol. Mending kita panggil aja Nyai Ronggengnya yak. Setuju kaga, Penonton?"

"Setujuuuuu...."

Sorakan penonton disambut dengan musik dan seorang penari dengan topeng yang mulai menggantikan para pemain lenong tadi.
Evan yang sempat berhenti karena ikut menikmati pertunjukan lenong tadi kini kembali sibuk memotret penari di atas panggung. Tak lama kemudian para pemain lenong naik kembali dan memberikan salam perpisahan ditutupnya acara. Evan tetap berdiri di tempatnya sambil memeriksa hasil jepretannya tadi.

Musik pengiring mulai berhenti. Para pemain lenong mulai turun dari panggung setelah penonton bubar. Mereka menuju meja di dalam stand untuk beristirahat.

"Sinar, nih minum dulu. Pasti capek pan abis ngibing terus dari siang?" Sambut Mpok Romlah menyambut Sinar yang penuh keringat saat membuka topengnya.

"Makasih ya, Mpok Romlah." Sahut Sinar sambil duduk di salah satu kursi di dalam stand.

"Mpok, Sinar doang yang disuduhin minum? Lha kita juga mau, Mpok." Celetuk Adam.

"Yaelah. Ambil ndiri lu sono. Kaya orok aje minta diambilin. Eh iya, sekalian Abang lu ambilin ye, Dam."

Adam tersenyum sinis mendengar jawaban kakak perempuannya namun mau tak mau Adam tetap bangkit dari duduknya.

"Bang Zul, mau diambilin minum apaan nih? Kopi?"

"Kaga. Jangan kopi lagi. Tadi abis solat isya gue baru ngopi. Bir pletok aje noh, samaan ama Sinar. Biar enteng nih badan besok pagi."
Adam mengambil dua botol bir pletok dan memberikan satu pada kakak iparnya itu.

Para pemain musik dan juga penjaga stand mulai merapikan alat-alat dan juga barang- barang di stand penjualan. 

Setelah menghabiskan minumannya, Sinar bangkit dari duduk dan ikut membantu Mpok Romlah membereskan barang-barang dagangan.

"Udeh, Sinar. Lu istirahat aje sono. Ame ganti baju. Biarin Mpok yang bebenah. Bentaran juga kelar."

"Ngga papa, Mpok. Saya nanti salin di rumah aja. Besok kan kostum narinya bukan yang ini. Biar sekalian yang ini nanti dicuci." Jawab Sinar dengan senyum.



"Permisi. Bu, udah tutup ya?" Tanya seorang laki-laki yang membuat Romlah berhenti dari kegiatannya. 

"Eh, iya. Udeh mau nutup sih. Emang kenape ye, Bang?" Tanya Romlah pada pemuda yang berdiri dengan kamera tergantung di lehernya.

"Bir pletoknya masih ada?"

"Masih..., masih, Bang. Nih bir pletok spesial banget dah. Bikinan Mpok sendiri, Bang. Jahe, kayu secang, sereh, gulanya juga asli. Pokoknya semua bahan-bahannya berkualitas dah."

"Masih ada emang pohon secangnya, Mpok?"
Evan mengubah panggilannya saat mendengar logat dari Mpok Romlah.

"Et ada, Bang. Pas bener di belakang rumah banyak pu'un secang."

"Emang di daerah mana, Mpok? Jakarta?"

"Lha Jakarta, Bang. Pinggiran tapinye. Kepleset dikit bisa nyampe dah langsung ke planet Bekasi. Namanya Kampung sawah, Bang. Kelapa Gading sonoan dah."

"Sanggar lenongnya juga?"

"Lha iya. Sekalian makanya inih. Ya dagang, ya ngelenong. Mumpunglah, Bang. Setaun sekali."

Penjelasan Mpok Romlah membuat Evan manggut-manggut. Sudah lama ia ingin membuat proyek tentang Budaya Betawi tapi belum ada waktu karena jadwal kerjanya yang padat.

"Yaudah kalau gitu saya beli bir pletok sama kue cinanya."

"Mau berape banyak, Bang?"

"Masing-masing dua deh, Mpok." 

"Dulu yak, kantong kertasnye mane tadi? Sinar, liat kantong kertas kaga, Neng?" 

"Ooh..., ada nih, Mpok." Sahut Sinar sambil menghampiri Mpok Romlah ke mejanya. 
Evan yang sedang menyiapkan uang berhenti sejenak saat melihat Sinar berada di depannya. Wajah gadis itu tak asing baginya. 

"Nih, Bang pesenannya. Semuanya jadi tujuh puluh lima rebu yak." Ujar Mpok Romlah sambil meyerahkan kantung belanja pada Evan. 

"Bang... et dah, dia bengong. BANG!!!" Ulang Mpok Romlah yang saling lempar pandang dengan Sinar.

"Eh..., iya, Mpok. Sorry jadi bengong."

"Ya begitu dah kalo nyai ronggeng kaga pake topeng. Bikin orang-orang terhipnotis." 

"Iya, Mpok. Bener. Kece badai ronggengnya. Siapa tadi namanya?"

"Yaelah. Modus aja si Abang nih. Bilang aja mau kenalan. Neng, tuh ada yang ngajak kenalan."

Sinar hanya terdiam. Ada sesuatu yang mengusik Sinar saat Evan berada di depannya. Aroma parfum. Jarak mereka hanya terpisah meja kecil tempat Mpok Romlah memajang dagangan hingga Sinar dapat mencium aroma yang berasal dari tubuh Evan. Sinar menggosok hidungnya beberapa kali. Aroma tubuh Evan mengingatkan dia pada sesuatu. 

Sesuatu selain bau anyir darah di dalam ruangan berwarna putih yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya. 

 ~Bersambung~


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "A DANCER'S NIGHTMARE Part 3"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.