A DANCER'S NIGHTMARE Part 2

A DANCER'S NIGHTMARE 
Anggarani 

Bab 2

Ban mobil yang berputar dengan stagnan itu kini mulai melambat, masuk ke parkiran tempat Wisata Kota Tua. Evan, seorang pemuda yang kini genap memasuki usia dua puluh tujuh tahun itu sebenarnya enggan berada di daerah ini. Macet dan juga semrawut karena banyaknya parkir liar di kanan kiri jalan. Ditambah lagi dengan alur lalu lintas yang dibuat panjang serta memutar sering sekali membuat dirinya kesal. Jika bukan karena tugas mendesak dari kantornya tak akan pernah ia menapakkan kaki ke tempat ini ... Lagi.

Evan menarik napas panjang di belakang setir, lega karena akhirnya ia berhasil mendapatkan tempat di area parkiran Wisata Kota Tua yang berada di Jalan Cengkeh incarannya. Areanya tidak terlalu besar tapi setidaknya jauh lebih aman daripada parkir sembarangan mengingat dulu ia pernah dikenakan biaya parkir sebesar lima puluh ribu per satu jam.

Setelah mengemas semua alat-alat untuk pemotretan hari ini, Evan segera turun dari mobilnya. Cukup jauh memang dari tempat parkir menuju lokasi pemotretan yang berada tepat di depan gedung Museum Fatahillah. Demi menjaga mood hatinya, Evan memutuskan untuk berjalan dengan santai menembus food court sambil tengok kanan kiri mencari sesuatu yang dapat menggugah seleranya. Akhirnya Evan berhenti di depan stand kerak telor.

Setelah memesan satu buah kerak telor, Evan berdiri di samping Abang penjual kerak telor sambil mengatur kamera yang tergantung di lehernya. Evan mengambil beberapa foto proses pembuatan kerak telor dari awal hingga selesai. Kemudian ia pun duduk sambil menyantap pesanannya.

Dering ponsel pintar yang selalu disimpan di saku celana memaksa untuk menyela waktu makan Evan. Tertera nama Rio di layar depannya. Mau tidak mau, Evan pun menjawab.

"Ya, Rio."
"Bang Evan, udah di mana nih, Bang?" Tanya Rio yang merupakan salah satu kru rekan kerja Evan.

"Di parkiran, Bro."
"Jam dua kan kita mau mulai pemotretannya." Lanjut Rio.
"Masih kurang lima belas menit. Ngga sampe sepuluh menit juga udah nongol gue." Sahut Evan sambil tetap mencecap makanan di mulutnya. 

"Make up dan setting lokasi udah kelar. Tinggal nunggu Abang dateng aja."

"Iya ya, ini juga lagi jalan ke depan museumnya." Evan segera menutup pembicaraan dan segera menghabiskan air putih di mejanya.


Evan tetap memilih berjalan santai. Setelah keluar dari area food court, guna mengusir aroma kerak telor yang menempel bersamanya tadi,  ia mengeluarkan body cologne dan menebarkan pada kemeja biru dongker slim fit dan celana hitam yang ia pakai. 

Angin siang ini beserta debu-debu yang menyertai menyapa wajah dan rambut lurus milik Evan. Seorang gadis berwajah oriental melambaikan tangan dengan wajah dan senyuman paling ceria untuknya. Evan membalas dengan senyum tipis.

"Hallo, Angel. Udah siap untuk pemotretan hari ini?" Sapa Evan.

"Udah dari tadi, Bang. Abang lama banget datengnya." Jawab gadis itu sambil mengerucutkan bibirnya manja.

"Kan sesuai sama jadwal yang ada." Sahut Evan santai, "Udah yok, semua. Kita mulai." Sambung Evan dengan suara agak keras ditujukan kepada empat orang anggota kru lainnya.

Evan memimpin pemotretan yang kali ini bertema vintage. Beberapa spot pemotretan telah mereka siapkan perizinannya dari jauh hari. Angel tampil dengan penampilan yang unik. Karena sebagai seorang wanita dengan busana pesta Zaman VOC, riasan wajahnya tetap dipertahankan seperti seorang ratu yang berasal dari Negeri Tirai Bambu di tengah tahun lima puluhan. Angel mengambil posisi di depan sebuah meriam peninggalan Zaman Belanda. Meriam itu biasa disebut Meriam Sijagur yang memiliki berat kurang lebih tiga koma lima ton. 

Setelah sesi awal selesai mereka pindah ke dalam Museum Fatahillah. Nuansa vintage dari gedung museum ini benar-benar mempengaruhi pikiran Evan. Terutama saat ini, Angel sedang berpose di salah satu anak tangga yang terbuat dari kayu. Kameranya sempat beberapa kali membidik tidak tepat. Evan pun memutuskan untuk mengganti lensa kameranya. Walau ia tahu bukan di situlah letak masalah sebenarnya. Dalam pandangannya, beberapa kali Angel berubah wajah. Wajah seorang gadis lain yang tak akan pernah ia lupakan. 

Tiga jam telah berlalu. Pemotretan pun selesai. Mereka semua berkumpul di halaman depan Museum Fatahillah untuk merapikan peralatan. 
Angel menghampiri Evan setelah selesai berganti kostum.

"Bad mood banget ya hari ini, Bang?" 
Evan hanya mendesah, menarik napas panjang sebagai jawaban.

"Biar ga bad mood terus, kita lanjut aja ke mana gitu?" Ajak Angel tanpa malu-malu.

Evan menatap Angel sebentar. Ia tak sempat menjawab pertanyaan gadis itu karena ponselnya berdering. Angel memainkan bibirnya memberi sedikit senyuman sinis atas sikap yang diberikan Evan padanya. Sok cool, ucapnya dalam hati.

"Mau ke PRJ?" Tanya Evan secara tiba-tiba kepada Angel.
"Eh... kapan?" Jawab Angel sedikit tak percaya.
"Sekarang. Udah pada selesai kan beres-beresnya."
"Boleh. Yuk semuanya pada ikut kan? Naik mobil aku aja." Kali ini Angel berseru dengan ceria.

"Oke. Kalian naik mobil Angel. Kita ketemu di sana. Gue pake mobil sendiri."

Angel melebarkan mata mendengar ucapan Evan. Tanpa sempat ia memberi komentar, Evan sudah melangkah. Sedangkan empat anggota kru yang lain menatap sebagai tanda sudah siap untuk ikut bersamanya.

Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, mereka kembali bertemu di depan pintu masuk arena Pekan Raya Jakarta. Suasana acara yang digelar setahun sekali ini cukup ramai walau pun hari menjelang malam.

"Gue ada janji sama temen di sini. Lama banget ngga ketemu. Dia baru balik dari Singapura." Terang Evan sambil membagikan tiket masuk masing-masing pada Rio, Angel dan kru lainnya.

Angel menarik napas enggan. Bukan jalan seperti ini yang sebenarnya ia inginkan. Tapi karena ia sudah berada di sini, yasudahlah ia hanya bisa pasrah.

Mereka berjalan terus sambil melihat-lihat apa saja yang ditawarkan di dalam stand yang berjejer di dalam arena. Dan akhirnya mereka berhenti di sebuah stand kopi Nusantara bergaya milenial. 

"Wooyy... Bro. Apa kabar?" Sambut seorang pemuda yang seumuran dengan Evan.
"Fadliiii... Makin tajir aja nih orang." Balas Evan yang dengan segera menyambut pelukan sahabat lamanya.

"Ini kru gue hari ini. Biasa Rio. Lo juga udah kenal kan?"
"Wah, Rio. Lama ya kita ngga jumpa."
"Bang Fadli yang menghilang gitu aja. Eh, pulang-pulang udah jadi juragan kopi rupanya."
Evan kemudian mengenalkan Fadli dengan krunya yang lain.

"Dan yang ini Angel. Dia model profesional nih, Bro. Siapa tau kan, lo lagi cari model buat produk-produk lo."

"Wah boleh-boleh. Susun aja kontraknya."
Angel pun tertawa mendengar ocehan dua sahabat lama yang baru bertemu itu. 
Saat Evan dan Fadli dan yang lainnya bercengkerama, Angel melihat selembar kertas meluncur dari tas kamera Evan yang terbuka. Angel mengambil kertas itu yang ternyata adalah sebuah foto, melihat kemudian meletakkannya di meja. Fadli melihat dan menelaah foto itu.

"Ini kan foto model lo yang dibunuh waktu itu kan? Masih belum move on juga lo, Van? Gimana kelanjutan kasusnya? Pembunuhnya udah ketangkep? Cewek juga kan pelakunya?"

~Bersambung~


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "A DANCER'S NIGHTMARE Part 2"

  1. Langsung salah fokus dengan nama tokohnya karena sama dengan nama suami saya, haha.

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.