A DANCER'S NIGHTMARE PART 1

A DANCER'S NIGHTMARE
Oleh. Anggarani

Part I

Alunan musik bertalu kencang seiring detak jantung terdengar di telinganya sendiri. Ia berdiri di depan pintu sebuah ruangan berwarna putih yang penuh dengan cairan berwarna merah berbau anyir. 

Sesaat ia termenung, mencoba memahami apa yang terjadi di depannya. Matanya menyapu seluruh ruangan. Pandangannya bertumbuk pada seorang gadis yang terkulai penuh darah di sudut ruang dekat jendela, sedikit tertutup oleh lelaki bertubuh kekar. Spontan ia pun menjerit.

Gadis itu berdiri gemetar sambil menutup mulut dengan kedua tangannya. Jeritannya jelas terdengar oleh sosok lelaki pemegang pisau. Lelaki itu menoleh, menatapnya dengan seringai di wajah penuh ketidaksukaan.

Gadis itu baru sadar telah mengundang bahaya tepat ke depan wajahnya. Kini tak ada sinkronisasi lagi antara tubuh dan otaknya. Saat otaknya memerintahkan untuk berlari, kakinya hanya mampu gemetar sementara matanya terus berusaha mengenali situasi apa yang terjadi di dalam ruangan.

Lelaki itu terus maju perlahan sambil mengarahkan pisau ke arahnya. Gadis itu mundur dari tempatnya berdiri, berusaha menghindar hingga akhirnya ia jatuh terduduk. Dengan refleks gadis itu menggerakkan kaki dan tangan agar menyeret tubuhnya, mencoba mundur semakin menjauh. Lelaki itu mulai menyerang. Dalam keadaan takut, dengan keras gadis itu menendang tangan si lelaki dan berhasil membuat pisau terjatuh.

Kesempatan belum tentu datang dua kali. Gadis itu pun segera membalik tubuhnya, menjadikan lutut dan kedua tangan sebagai tumpuan di lantai lalu berusaha bangkit secepatnya. Seakan tak mau kalah cepat si lelaki langsung bergerak dan berhasil memegang lalu menarik kaki kanan gadis itu. Gadis itu kembali menendang. Sayangnya kali ini mengenai lahan kosong. Ia berpikir jika hanya menjerit, sekuat tenaga apapun tak akan memberikan hasil maka gadis itu terus bergerak, berontak, bergeser hingga tubuhnya berhasil mendekat pada pisau milik lelaki itu yang kini berada di lantai.

Pisau kini berpindah tangan. Tanpa pikir panjang lagi, pisau terayun. Tepat mengenai kening lelaki itu. Dan kaki kanan gadis itu kini terbebas.

Gadis itu duduk sambil memegang pisau dengan kedua tangan menghadap lelaki di depannya. Tubuh gadis itu yang semakin gemetar membuat pisau pun kembali terjatuh. Gadis itu menutup mulut dengan kedua tangannya, tak percaya dengan semua yang baru saja terjadi. Seorang lelaki dengan wajah penuh darah karena ulahnya.

Lelaki itu berusaha menyingkirkan darah yang terus mengalir menutupi matanya kemudian mengambil pisaunya kembali. Kini ia kembali menatap gadis di depannya itu dengan penuh kemarahan. 

Gadis itu bangkit secepat yang ia bisa, segera keluar dari kamar dan terus berlari. Tak ada waktu lagi untuk peduli dengan dua orang di depan kamar yang tertabrak olehnya.




Deg!

Sinar bangun terduduk di ranjang. Pukul dua malam lewat delapan menit. Ia mengatur napas yang memburu seakan benar-benar berlari dalam lorong panjang sebuah bangunan demi menghindari lelaki pembawa pisau yang mengejarnya. Tubuhnya gemetar, keringat memenuhi sekujur tubuh. 

"Mimpi itu lagi." 
Ucapnya lirih. 

Tidak sampai tiga puluh menit ia merasakan tidur malam ini. Sinar bangkit dari ranjang. Berjalan mondar mandir sambil terus mengusap-usap wajah sampai ke rambut di dalam kamar sempitnya. Dalam gelisah, langkah Sinar terhenti di depan cermin yang menempel di lemari bajunya. Ada sebuah wajah tirus penuh dengan peluh dan rambut hitam lurus menyentuh bahu terpantul di sana, bulatan hitam di sekitar matanya semakin melebar.

Sinar mencoba menangkap mimpi-mimpi itu kembali. Merunut setiap kejadian demi kejadian. Bagaimana wajah orang-orang yang berada di dalamnya. Sinar dapat dengan jelas menangkap wajah gadis yang terbujur kaku, tapi wajah lelaki itu? Bagaimana wajahnya? Kenapa ia tak pernah dapat merekam wajah orang yang selalu hadir dan menghantui dalam setiap mimpinya? Hanya satu yang ia ingat, wajah lelaki itu bersimbah darah. Lalu siapa dua orang yang ia tabrak? Bagaimana nasib mereka? Apakah mereka berhasil menangkap lelaki yang menyerangnya malam itu?
Sinar kembali berjalan, berhenti lalu bersandar di meja samping ranjang. Ia menatap lalu meraba sebuah radio jadul yang berada di atas meja. Memasukkan sebuah kaset pita kemudian sebuah musik perpaduan antara rebab, gendang besar, kempul, kromong tiga, kecrek, kulanter dan gong buyung khas Betawi terdengar.

Sinar mengambil beberapa langkah ke belakang sambil terus memandang sumber suara musik yang berada di depannya. Tangannya menyambar selampe* yang tersampir di pinggir meja, menjepitnya dengan ujung jari di tangan kanan.

Perlahan matanya terpejam. Kaki kirinya berada tetap di tempat menghadap serong sebanyak empat puluh lima derajat. Kaki kanannya juga menghadap serong empat puluh lima derajat berada satu kepal di depan ujung kaki kiri. Tumit kaki kanannya berada satu garis dengan tumit kaki kiri. Ia mulai mengatur napasnya kemudian secara perlahan kedua lututnya bergerak menekuk dan kedua tangannya mulai mengayun menyentuh pundak, semua berjalan secara bergantian mengikuti irama. Tak puas hanya berada di satu tempat, Sinar melangkah gemulai mengitari kamar. 

Sambil terus bergerak, Sinar menatap deretan topeng yang tergantung di dinding kamarnya. Ada tiga buah topeng terpampang di sana. Masing-masing berwarna putih, pink dan merah.


Kemudian tangan kirinya menyambar topeng berwarna putih yang biasa ia pakai saat memainkan Tari Panji, tarian pembuka dari Tari Topeng Tunggal Betawi. Sinar mulai menggigit topeng agar kuat terpasang di wajah gadis berusia awal dua puluh tahunan itu. Sambil terus menari, Sinar mulai meresapi karakter topeng yang ia pakai saat ini. Seorang gadis yang lemah lembut seperti dirinya yang sebenarnya. 

Setelah beberapa lama, Sinar mengganti topengnya dengan topeng berwarna pink. Ia mulai memainkan Tari Samba, saat topeng itu terpasang, gerakan Sinar pun berubah mengikuti karakter topeng yang lincah dan sedikit genit. Karakter inilah yang paling susah ia rasakan. Genit tidaklah masuk ke salah satu sifat yang ia miliki. Baginya bersikap genit hanya akan membawa pada sebuah kesialan. Karakter ini memang bertolak belakang dengan dirinya tapi ia pernah berada dalam posisi ini dalam hidup. Dan ia benar-benar berada dalam kesialan karenanya, membuat Sinar benar-benar menyesal karena hal itu membawa dia ke dalam kegelisahan yang berkepanjangan.

Setelah dirasa waktunya cukup, Sinar kemudian mengganti kembali topeng yang ia kenakan. Topeng Jingga. Topeng berwarna merah yang mewakili karakter gagah yang kuat dan penuh amarah. Karakter inilah yang ia rasa paling ingin dimiliki untuknya saat ini. Kemarahan, bukan ketakutan seperti yang selama ini ia rasakan. Rasa takut yang begitu mendalam hingga tak mampu menghalau mimpi-mimpi itu datang.

Sinar terus melenggak-lenggokkan tubuhnya walau tak ada banyolan dan bodoran seperti saat pertunjukan. Ia merasa lebih bebas tanpa harus menuruti waktu-waktu yang ditentukan untuk berbagi bagian dengan pemain panggung lainnya.

Sinar menari dan terus menari ... Sampai pagi.

~Bersambung~

*Selampe: Sapu tangan


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "A DANCER'S NIGHTMARE PART 1"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.