Cinta Untuk Hanin Part VII Malam yang Panjang


Baca Bab Sebelumnya
Cinta Untuk Hanin part I

Tyana dan kedua orang tuanya terlihat tidak menanggapi ucapan Tyana dengan serius. Berbeda dengan Hanin, ia tak dapat menghilangkan rasa kikuk selama makan malam berlangsung. Bahkan tak ada lagi kata-kata yang keluar dari bibir Hanin saat makan malam selesai.

Hanin mencoba mengalihkan diri dengan melihat ponsel miliknya yang berada di dalam tas. Dua puluh tiga pesan whatsapp dari Annisa belum terbaca. Hanin segera membacanya dan menyesal seketika karena kabar yang Annisa berikan tak jauh-jauh dari Ammihnya yang mengingatkan bahwa jangka satu bulan yang diberikan telah jauh terlewat.

"Ada yang penting, Nak Hanin?" Tanya Arumi menyadarkan Hanin.
"Oh, ngga..., ngga ada yang penting, Tante. Cuma whatsapp dari adik saya di Jogja." Jawab Hanin sambil tersenyum.

"Oh iya, Tante, Oom. Sudah malam. Hanin sekalian pamit yah. Terima kasih makan malamnya."

"Baru jam sembilan lho, Mba Hanin. Nanti aja. Kita kan masih bisa ngobrol-ngobrol." Cegah Tyana.



Hanin tersenyum mendengar ucapan Tyana yang terdengar tulus tak ada lagi rasa kesal seperti tadi. 

"Kapan-kapan deh kita ngobrol. Kita atur waktu buat ngopi-ngopi cantik nanti yah."
"Bener ya, Mba. Aku tunggu lho."

Hanin tersenyum sambil mengangguk pasti.
"Yaudah. Yuk aku antar ke depan."

Hanin segera berdiri dan berpamitan pada Arumi, Pras dan juga Araya. Saat Hanin dan Tyana beranjak, Araya pun ikut melangkah, berjalan bersama mereka.

Tak ada percakapan di antara mereka bertiga hingga nada panggil dari ponsel Tyana berbunyi.

"Duh, Mba Hanin. Mas Araya aja deh yang antar yah. Temenku nelfon nih." 

Hanin hendak mencegah Tyana yang mulai meninggalkannya berdua dengan Araya, tapi sayangnya gadis itu terlalu fokus dengan obrolan di dalam ponselnya.

"Ngga usah diantar juga gapapa. Pintunya sudah deket juga." Ucap Hanin pada Araya.
Araya diam sesaat. Ia tak menjawab malah menatap Hanin dengan tajam membuat Hanin sedikit jengah.

"Maaf ya, kalau tadi Tyana udah bikin kamu ngga nyaman pas makan malam tadi."

Hanin tersenyum. Ingin sekali ia mengatakan bahwa sebenarnya sikap Arayalah yang selama ini membuatnya tidak nyaman. Tapi urung ia katakan.

"Ooh... itu. Saya malah berharap semoga kehadiran saya ngga mengganggu kalian. Biasa kan orang kalau mau menikah itu ada aja cobaannya."
"Yaah... kau memang cobaan terindah, Hanin."

Air wajah Hanin berubah gusar seketika mendengar kalimat Araya barusan. Hanin bertanya-tanya entah berada di mana otak laki-laki yang berada di hadapannya saat ini, berani-beraninya berbicara seperti itu kepada wanita lain. Di rumah keluarga calon wanita yang akan dinikahi.

"Jaga lisanmu, Mas Araya. Ngga pantas ucapan itu keluar dari lelaki yang ingin segera menikah." Ujar Hanin dengan ketus. Tanpa menunggu apa-apa lagi, Hanin segera melangkah pergi meninggalkan Araya.

Hanya tatapan Araya yang mengikuti langkah-langkah Hanin keluar dari rumah itu. Ia sengaja menahan langkahnya, di wajahnya terlukis sebuah senyuman. Saat ini, Araya sangat menikmati kemarahan Hanin.

Hanin melangkah menuju mobilnya tanpa menengok lagi ke belakang. Tangannya menggenggam kemudi dengan sangat kuat dan dengan segera ia melajukan mobil meninggalkan rumah itu. 

Sikap Araya benar-benar keterlaluan! Hanin terus menggerutu dalam hati.

Hanin melirik ke arah tas yang ia letakan di kursi sebelahnya. Ponsel di dalam tasnya terus bergetar tanpa nada dering. Ia ingat bahwa Anissa malam ini berkali-kali mencoba menghubunginya. Hanin terus saja menyetir, tak ada niat sama sekali untuk mengangkat telefon atau pun membalas chat dari Anissa. 



Pukul sepuluh lewat dua puluh lima menit, Hanin tiba di rumah. Ia segera menuju kamar. Setelah membersihkan diri, Hanin merebahkan tubuhnya di tempat tidur. 
Pikiran Hanin melayang, sejauh keinginan melepaskan semua penat di kepalanya. Tapi itu tak berlangsung lama. Ponsel di dalam tasnya kembali bergetar. Hanin bergeming. Ia hanya memandang sampai ponsel itu berhenti bergetar. 

Hanin membuka ponselnya setelah tak ada lagi panggilan. Annisa. Dua belas panggilan tak terjawab dan dua puluh tujuh pesan whatsapp yang isi kalimatnya hampir sama. Ammih memintanya pulang dan menanti jawabannya atas lamaran Khalif. Hanin meletakkan ponselnya sembarangan di atas kasur. Sudah lewat satu bulan dari ancaman yang dilayangkan Afifah padanya.

Keras kepala!

Entahlah mana yang lebih kuat pada akhirnya nanti. Dirinya atau Afifah? Ia memang tidak sepenuhnya menyalahkan Afifah, desakan yang diberikan hanyalah berdasarkan naluri seorang ibu yang khawatir kepada anaknya. Tapi ia juga tak mau menyerah pada keadaan. Keadaan saat ini, di mana masih ada luka yang terasa perih atas perlakuan Khalif pada masa lalu. Luka yang hanya diketahui oleh dirinya, Khalif dan juga Fauza. 

Dada Hanin sesak, kesedihan bercampur kemarahan muncul seketika saat ingatan atas kejadian itu hadir kembali. Dirinya tak sanggup bercerita pada siapa pun, termasuk keluarganya. 

Hanin menyambar ponselnya yang kembali bergetar. 

"Jika ini tentang Mas Khalif, jangan harap aku akan datang, Annisa!!!" Ucap Hanin dengan nada penuh emosi.

"Kalau begitu, datang saja kepadaku, Hanin." 

Hanin tersentak, bukan suara Annisa yang keluar ponselnya. Hanin memang tak sempat melihat nama yang tertera saat panggilan tadi. Ia pun segera menutup ponselnya dan segera istighfar karena suara yang ia dengar itu adalah suara Araya.

~bersambung~

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Cinta Untuk Hanin Part VII Malam yang Panjang"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.