CINTA UNTUK HANIN part VI Makan Malam Keluarga


Baca bab sebelumnya

Hanin duduk di salah satu sofa pengunjung butiknya. Ia menatap gaun yang sedang dilepas dari maneken oleh Diva dan dua karyawan lainnya. Gaun itu telah selesai secara keseluruhan. Araya pun telah melunasi pembayaran kedua gaun yang dipesannya. Sore ini gaun-gaun itu akan segera diantarkan. Sesuai dengan permintaan, gaun itu akan diantar sendiri oleh Hanin.

Tepat selepas salat maghrib, Hanin melajukan mobil menuju alamat yang telah diberikan oleh Tyana. Jakarta, komplek perumahan mewah yang tak begitu jauh dari butik tetap saja memakan waktu satu jam untuk Hanin menempuhnya. 

Hanin menghentikan mobil di depan sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi berwarna hitam. Hanin menurunkan kaca mobil saat seorang petugas keamanan menghampirinya.

"Selamat malam, Bu. Ada keperluan apa?"
"Malam, Pak. Saya ingin bertemu dengan Tyana. Apa benar ya ini alamatnya?" jawab Hanin sambil memperlihatkan alamat yang tertera di layar smartphone-nya.

"Ooh..., Mba Tyana. Benar, Bu. Sebentar yah."

Petugas itu mempersilahkan Hanin masuk kemudian meminta petugas lain untuk membuka pagar melalui walkie talkie yang berada di tangannya.

Di depan pintu seorang gadis berjilbab ungu telah berdiri menyambut Hanin.

"Mba Haniiiin.... Waaaah... makasih ya diantar tepat waktu. Seneng deh. Bisa jadi langganan nih aku." Sambut Tyana dengan ceria saat melihat Hanin keluar dari mobil.
Hanin membuka bagasi mobilnya, dua orang pekerja di rumah Tyana segera mengambil dua kotak berisi gaun milik Tyana kemudian membawanya masuk. 

"Mba Hanin, makan malam dulu di sini yah. Mama mau kenalan sama Mba Hanin." Tambah Tyana.

Hanin terdiam sejenak. Ia berpikir bagaimana caranya menghindar dari tawaran Tyana.

"Duh, jadi ngerepotin. Ngga usahlah, Tyana. Aku juga buru-buru mau sholat isya nih." 
"Sholatnya di sini ajalah, Mbaaaa...," ucap Tyana sambil menggandeng tangan Hanin sambil melangkah masuk. "Udah ah aku ngga mau Mba Hanin nyari-nyari alesan kaya gini. Kapan lagi kan kita bisa makan malem bareng-bareng. Yakali setelah makan malem ini aku dianggep sodara sama Mba Hanin. Jadi kan aku bisa dapet diskon kalau belanja di butik." Sambung Tyana yang membuat mereka berdua tertawa bersama-sama.

Tyana membawa Hanin ke kamarnya. Setelah mereka selesai salat isya, Hanin membantu Tyana mencoba kedua gaun pengantinnya.

"Mba Hanin the best deh. Aku minta dua, langsung dibungkusin. Mas Araya ngga komplen kan, Mba?" Celoteh Tyana sambil membolak-balikkan badannya di depan cermin.

"Ngga. Mas Araya ngga komplen. Malah mau pesan satu gaun lagi."
"Hah? Serius, Mba?"
"Iya. Tapi ngga aku kasih soalnya desain itu ngga aku jual." Jawab Hanin sambil tersenyum.

"Hahahaa...., Mba Hanin ngga kenal Mas Araya sih. Mas Araya itu pejuang tangguh lho, Mba. Kalau dia sudah mau sesuatu, pasti dia akan berusaha keras mendapatkannya. Siap-siap repot aja, Mba."
Hanin mengerutkan dahi kemudian mengangkat bahu mendengar ucapan Tyana barusan. 

"Jadi persiapan pernikahannya sudah sampai mana?"

"Besok mau ketemu fotografer yang direkomendasiin sama WO-nya sih, Mba. Ya walaupun sekarang Papa udah ngga ngasih izin buat pajang-pajang foto dan gambar-gambar makhluk hidup di dinding rumah, tapi kan tetep aku mau hasil yang terbaik buat pernikahanku nanti."

Hanin mengangguk-angguk sambil melihat sekeliling. Pantas saja dari awal masuk tadi, Hanin tidak melihat foto-foto dipajang di rumah ini termasuk foto keluarga.



"Udah nih, Mba. Cantik semua gaunnya. Aku suka. Sekarang kita makan yuk." Ajak Tyana setelah selesai merapikan gaun pengantin yang baru saja ia coba.

"Ngga usah deh, Tyana. Aku langsung pulang aja."

"Jangan, Mba. Jam segini Papa juga pasti udah pulang. Ngga usah sungkan."

Tyana langsung menarik Hanin ke ruang makan. Di sana sudah ada menunggu seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik menggunakan gamis dan jilbab berwarna kuning gading.

"Mama, ini Mba Haninnya. Desainer berbakat itu lho yang Mas Araya ceritain. Cantik kan, Ma."

Ucapan pengantar Tyana saat mengenalkan dirinya membuat Hanin tertawa kecil.

"Hanin, Tante. Bisa aja Tyana kalau muji orang." Hanin mengulurkan dan mencium tangan Ibu Arumi untuk berkenalan sekaligus menghormati wanita yang sebaya dengan orang tuanya di rumah.

"Panggil saja Tante Arumi..., Iya. Tyana memang seperti itu, Nak Hanin. Tapi Tyana juga bener koq. Kamu itu cantik." Jawab Ibu Arumi sambil merangkul Hanin, mengajaknya langsung ke meja makan.

Tak lama kemudian muncul Araya bersama seorang laki-laki berumur yang terlihat bersahaja berjalan di sampingnya.

"Itu Mas Araya sama Papa baru datang dari masjid." Ucap Ibu Arumi.
"Wah ada tamu spesial rupanya." Celetuk Araya sambil menatap Hanin.



Hanin membalas Araya dengan senyum hambar. Ia teringat ucapan-ucapan Araya di restoran waktu itu. Senyum Hanin kemudian berubah menjadi senyuman penuh hormat saat Tyana mengenalkan Pak Pras kepada Hanin.

"Ooh... ini yang namanya Hanin. Araya dan Tyana sudah sering cerita tentang kamu. Selamat datang di keluarga kami, sering-sering main ke mari." Sambut Pak Pras kepada Hanin dengan ramah.
"Insyaa Allaah, Pak."

"Sudah. Ayo sekarang kita makan." Ajak Ibu Arumi yang sudah mulai mengambilkan nasi ke piring Pak Pras.

"Mas Araya, apaan sih? Bukannya mulai ambil makanan, kenapa malah ngeliatin Mba Hanin terus?!" Celetuk Tyana membuat Hanin terkejut.

Sedangkan sikap Araya berbanding terbalik dengan Hanin. Laki-laki itu hanya tertawa kecil bahkan sempat mengangkat kedua alisnya sambil tetap menatap Hanin. Hal ini tentu saja membuat Hanin salah tingkah.  Ia takut keberadaannya di sini membawa efek yang tidak baik.

Bagaimana pun, keluarga Tyana adalah pelanggan butiknya. Dan bukankah Tyana akan menikah dengan Araya? Apa-apaan sih Araya ini?

~bersambung~
Cinta Untuk Hanin Part VII

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "CINTA UNTUK HANIN part VI Makan Malam Keluarga"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.