Kakak dan Kacamata

Kakak dan Kacamata
Kacamata anak

Kakak, putri sulung saya sekarang duduk di kelas tiga madrasah ibtidaiah. Usianya delapan tahun. 

Sejak duduk di kelas satu, Kakak ini sudah bermasalah saat belajar. Bukan karena dia nakal atau sejenisnya. Kakak seringnya bengong. Apalagi saat diminta menyalin tulisan di papan tulis ke buku.

Awalnya saya ngga terlalu menganggap serius. Saya pikir karena masih kecil, mungkin Kakak masih belum peduli sama sekolahnya. Soalnya kan beda yah sama masa-masa TK yang isinya banyak disela permainan-permainan. Ditambah lagi, nilai Kakak ini selalu bagus, ranking dua di kelasnya. Kalau saya saja menganggap sepele apalagi Pak Suami yang biasanya cuma menerima laporan saja setiap harinya. 

Tapi begitu masuk semester dua, gurunya Kakak mulai membicarakan hal ini dengan serius. Kakak ngga pernah selesai menyalin tulisan dari papan tulis jadi ngga pernah ngerjain PR. Ya gimana mau ngerjain, soal di papan tulis aja ngga dia salin ke buku. 



Padahal Kakak itu sering duduk di bagian depan. Oya, kelasnya Kakak ini sistem duduknya berputar. Jadi dalam beberapa periode, murid-murid duduknya dipindah-pindah biar adil.

Nah karena hampir setiap hari saya lihat Kakak ngga pernah selesai menyalin soal PR di bukunya, saya mulai curiga sama daya lihatnya Kakak. Bu Gurunya pun menyimpulkan hal yang sama.

Lalu saya mendesak Pak Suami agar mengantar Kakak periksa mata. Dan hasilnya adalah mata Kakak minus 2, langsunglah Pak Suami bikinin kacamata. Ya Allah, waktu itu masih usia enam tahun lho. 

Kakak sendiri saat dikasih tau disuruh pakai kacamata, awal sih dia semangat banget. Ribut terus nanya kapan kacamatanya jadi. Tapi setelah beberapa minggu berjalan semangatnya hilang, Buibuuu.... 

Kacamata dipakai kalau sekolah aja. Pas di rumah ngga mau pakai. Lama kelamaan geletak sana geletak sini. Umminya terus yang benahin, iyala masa' tetangga. Dan begitu Kakak naik kelas dua, saya ngga pernah lagi ngelihat itu kacamata. Ditanya pun anaknya bilang ngga tau. Hadeeuuuh....
Kacamata anak


Karena guru kelas satu dan kelas duanya kebetulan orang yanga sama. Pada saat saya datang, bu gurunya bilang kalau Kakak di kelas udah lama ngga pakai kacamata, padahal dari rumah pakai. Solusinya pada saat ada tulisan di papan tulis, Kakak disuruh duduk di depan supaya bisa nyalin ke bukunya.

Saat kelas dua itu, Kakak setiap ditanya tentang kacamata dia cuma diam. Bukan karena hilang saja, tapi saya juga mau mastiin dia mau pakai kacamata apa ngga? Terus dia jawab, ngga mau. Dia bilang, temen-temennya ngga ada yang pakai kacamata terus hidungnya sakit kalau pakai kacamata.



Terus bagaimana sikap saya sebagai ibunya?
Oooh yaudah berarti dia ngga mau lagi pakai kacamata. Sesantai itu? Iya, Bu. Bener sikap saya kaya gitu. Karena saya pikir nilai-nilai anak saya ngga turun, tetap rangking dua. Hingga akhirnya Kakak naik ke kelas tiga, jadi selama satu tahun di kelas dua, dia ngga pakai kacamata.

Di kelas tiga ini, gurunya ganti. Tapi kebetulan guru TK nya Kakak dulu. Dari awal saya bilang Kakak matanya minus, biar kalau nulis dikasih tempat di depan kaya kelas dua dulu. Bu guru pun setuju.

Lama kelamaan bu gurunya Kakak kirim inbok ke fb saya, minta Kakak sebaiknya pakai kacamata. Saya ceritain tentang nasib kacamata yang dulu. Dan akhirnya bu guru kirim foto bagaimana cara Kakak nulis di kelasnya.
Kacamata anak

Ya Allaaah..., ngeliat foto yang dikirim, saya kaget, Buuu.... 

Kakak tuh nulisnya deket banget sama buku, hampir nempel wajahnya ke buku. Akhirnya mau ngga mau saya kelimpungan sendiri. Maksa-maksa Pak Suami buat bikin kacamata lagi. 
Tapi sebelumnya saya cek ulang lagi  tempat peralatannya Kakak, lemari, meja belajar dan juga tas-tas yang sering dia pakai. Akhirnya kacamatanya ketemu di tas yang udah lama ngga dia pakai. 

Karena udah ketemu, saya suruh dia pakai lagi. Tapi sama aja ternyata, Kakak maunya pakai pas sekolah aja. Saat sekolah pun dia sering buka  kacamata sampai sering ditegur gurunya. Dan Kakak pun bilang kalau masih ngga jelas melihat ke papan tulis.



Berhubung Pak Suami sibuk. Apa-apa harus liat istrinya ribut dulu dari pagi sampai pagi lagi ngomongin hal yang sama. Jadi pada hari minggu kuturut ayah ke kota kami pergi ke mall, cari optik yang bagusan dikit alat cek matanya. Soalnya kacamata pertama itu cuma optik dekat rumah. 

Terus saya minta Kakak cek mata biar sekalian bikin yang baru. Tapi ternyata petugas optiknya nyerah. Soalnya udah dicek pakai komputer, setelah dicoba lensa matanya, Kakak bilang masih ngga jelas lihat hurufnya. Dan petugas optiknya pun bilang harus dibawa ke dokter mata.

Duh, makin khawatir dong saya. Takut kenapa-napa. 

Seninnya saya coba bawa ke Rumah Sakit Islam Sukapura yang deket rumah. Tau ngga, poli mata ini ternyata cuma terima maksimal 15 pasien, sekitar jam tujuh pagi pendaftaran sudah penuh. Jadi pas saya dateng, polinya udah tutup. Terus saya minta Pak Suami pulang dari masjid pas sholat subuh langsung ke rumah sakit buat daftar. Dan jam sembilan datang bisa langsung masuk.

Selama di rumah sakit, Kakak periksa mata terus dikasih obat tetes dua kali. Masih agak khawatir juga yah nemeninnya. Soalnya udah coba beberapa lensa Kakak bilang masih ngga jelas. Tapi akhirnya selesai juga. Dan sekarang mata Kakak minus 7 yang kanan dan minus 5 yang kiri.
Kacamata anak

Gara-gara apa, Bu? Gara-gara saya nurutin maunya dia. Pakai kacamata lepas pakai. Dan akhirnya minusnya tambah besar. Jadi ternyata, kacamata itu harus selalu dipakai kecuali tidur dan mandi.

Terus apakah Kakak mau pakai? Teteup mau ngga mau. Kalau Umminya meleng, kacamatanya ditinggal di meja. Sampai satu hari, bu gurunya inbok saya lagi. Soalnya saya kan pesan kalau Kakak ngga pakai kacamata di kelas tolong ditegur aja. Nah, hari itu bu guru bilang gini di depan kelas ke Kakak.

"Kakak pakai kacamatanya, lebih cantik pakai kacamata koq."

Dan ternyata berhasil, Buibu. Kakak pakai kacamata sampai ke rumah. Hahahaa.... ketawa puas. 

Nah pas sampai rumah pun saya bilang hal yang sama. Muji-muji kalau Kakak lebih cantik pakai kacamata. Kakak pun jawab, 

"iya, udah tau. Bu guru juga bilang begitu."

Dan sampai sekarang alhamdulillaah, Kakak mau pakai kacamatanya setiap saat.

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "Kakak dan Kacamata"

  1. Iya mbak. Saya juga lepas pakai dan akhirnya jadi tinggi minusnya :-( semoga kakak mau terus ya mbak pakai kacamatanya dan minusnya ga nambah.

    ReplyDelete
  2. Wah tinggi juga minusnya ya, Mbak. Semoga kakak mau terus pakai kacamatanya

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.