CINTA UNTUK HANIN part V SEBUAH CORETAN




Hanin sibuk dengan secarik kertas berwarna putih di meja kerjanya. Kertas yang biasa ia gunakan untuk membuat desain gaun pengantin kali ini menjadi sasaran kegundahan hatinya. 

Di sela mencoret-coret, Hanin menarik napas panjang. Ia melirik ponselnya yang terus berdering kemudian ia acuhkan. Sudah tiga hari lamanya ia tidak menjawab permintaan Araya tentang desain gaun pengantin yang terakhir. Desain gaun itu memang sederhana, tapi ia tetap enggan menjualnya.

Jam dinding sudah meninggalkan pukul delapan malam. Para karyawan butik pun sudah bersiap pulang. Setelah butik selesai dirapikan Hanin dan Diva berjalan pulang bersama. 

"Assalamualaikum, Hanin." 

Hanin dan Diva menjawab salam sambil menoleh ke arah suara.

"Mas Araya? Butik sudah tutup, Mas." Jawab Hanin dengan nada bingung.

"Aku memang ngga mau ke butik kok. Tapi mau ngajak makan malem. Di sebelah sana warung steak-nya enak lho. Kalian udah coba?" Ajak Araya menatap Hanin dan Diva bergantian.

"Saya sudah makan, Mas. Makasih." Jawab Hanin. 

"Kalau bumil pasti lapar kan?" Araya ganti memandang ke arah Diva.

"Hmmm...." Diva melirik sambil menyikut Hanin pelan penuh harap.

"Orang hamil ngga baik makan steak. Kurang mateng dagingnya. Lagian kan kamu disuruh diet sama dokter kandungan, Div. Biar bayinya ngga kegedean di dalam." Hanin berucap sambil membalas sikutan Diva.

"Tapi kan aku ngga setiap hari makan steak-nya, Mba. Sekalian nunggu suamiku jemput nih." Tatap Diva memohon.

"Tuh, Hanin. Kasian kan bumilnya mau. Ayolah. Jangan sampai aku yang gandeng yah." Pinta Araya sambil mengulurkan tangannya sebagai ancaman.

Hanin berjalan enggan mengikuti Diva dan Araya. Sebenarnya ia paham tujuan Araya adalah mengincar desain gaun pengantin yang masih belum ia jawab.

Tak banyak kata-kata yang keluar dari Hanin. Ia lebih banyak mendengarkan celotehan Araya dan Diva. Itu pun tak seberapa lama karena sebenarnya pikiran Hanin pergi entah ke mana.

"Mba Diva, mau bungkus ngga?" tanya Araya saat melihat piring Diva telah kosong.
"Eh, serius, Mas Araya?"
"Iya."
"Kalau gitu sekalian yah buat suamiku." 
"Boleh."

Hanin tersenyum, tidak kaget mendengar jawaban Diva. 

"Kamu mau sekalian, Hanin?" tanya Araya. Hanin menggeleng pelan.

"Oiya, Mba Hanin. Kunci butik tadi sama Mba kan yah? Besok aku shift pagi nih. Mba atau aku yang bawa?" Tanya Diva.

"Kamu aja yang bawa. Besok aku datengnya siangan yah." 

Hanin agak sulit mencari kunci di dalam tas. Ia berhasil menemukannya setelah mengeluarkan beberapa barang. 

Pandangan Araya menangkap sebuah lembaran kertas yang melayang kemudian terjatuh di kolong meja, ia mengambilnya perlahan kemudian memasukkan ke dalam sakunya.

"Suamiku sudah datang nih, Mba Hanin. Aku pamit duluan yah. Makasih lho, Mas Araya." Pamit Diva secepat kilat setelah menu tambahannya datang, ia tak peduli dengan wajah keberatan Hanin.

"Kalau gitu aku pamit juga. Makasih traktirannya yah, Mas Araya." Ucap Hanin tak mau kalah.

"Makanannya belum habis lho, Mba Hanin. Mubazir. Ditemenin setan lho nanti, kan Mba Diva udah pergi."

Gerakan Hanin terhenti sejenak memandang Araya, mencoba memahami kalimat yang baru saja didengarnya.

"Saya kan bukan temen kamu, Hanin. Saya ini customer butik." Timpal Araya lagi membuat kening Hanin semakin berkerut.

"Udah. Ngga usah kebanyakan mikir. Habisin dulu makannya. Saya udah jinak kok. Ngga akan makan kamu. Kasian tuh. Masih banyak orang kelaparan di luar sana. Yah, Hanin pasti lebih paham akan hal ini kan dari saya?" 

Ucapan Araya berhasil membuat Hanin duduk kembali. Mereka meneruskan makan mereka tanpa ada sepatah kata pun yang keluar.

"Makanan saya sudah habis. Jadi saya bisa pulang sekarang kan?" Tanya Hanin sambil mengusap bibirnya dengan selembar tissu.
Araya tersenyum sambil menatap Hanin. 

"Buru-buru ya, Hanin? Baru juga jam sembilan. Bill-nya aja belum datang, masa' saya mau ditinggal gitu aja?"

Hanin hanya mengangkat bahu sambil menjawab.

"Jadi? Apa sebenarnya ada yang mau Mas Araya sampaikan sama saya? Oiya, pasti tentang desain gaun itu kan? Kalau Mas Araya mau, saya punya desain lain yang lebih bagus dari itu."

"Belum bisa move on ya, Hanin?"
"Maksudnya?"

"Apa desain gaun yang kemarin itu menjadi bagian dari masa lalunya kamu?"

Kedua alis Hanin saling mendekat satu sama lain. Ia menarik napas panjang tanpa menjawab Araya.

"Gagal move on itu ngga enak ya, Hanin?"

Bagus, sekarang apakah seorang desainer baju pengantin harus membuka sesi curhat bagi calon pengantinnya? Teriak Hanin dalam hati.

"Kamu tau ngga? Ada lho orang yang pacaran ngga sampai setahun tapi gagal move on sampai sepuluh tahun. Gara-gara gagal move on ada juga orang yang menjalani pernikahannya setengah hati tanpa mencintai orang yang dinikahinya."

Ucap Araya sambil menatap tajam ke arah Hanin.

"Terus???" Tanya Hanin semakin tidak mengerti.

"Bukankah islam mengizinkan poligami ya?"

"Tunggu. Bentar deh, Mas. Mas Araya ini baru aja mau nikah sama Mba Tyana tapi udah mikirin mau poligami? Begitu maksudnya kah?"

Araya tersenyum kemudian tertawa kecil mendengar pertanyaan Hanin.

"Saya ngga lagi membicarakan tentang saya. Oiya, ada lagi nih yah, Hanin. Gara-gara gagal move on ada juga yang memilih melajang seumur hidupnya."

"Lho? Jadi ini tentang siapa? Tentang saya?" Hanin menahan gemeretak giginya.

Araya mengangkat kedua bahunya sambil tetap tertawa kecil.

"Ada penulis terkenal yang bilang. Kita bisa tetap menjadi tokoh utama dalam cerita kehidupan kita sendiri. Jadi untuk apa kita memilih menjadi tokoh antagonis atau mungkin menjadi tokoh yang bias dalam kisah kehidupan orang lain?" Tambah Araya sambil meletakan selembar kertas berwarna putih di atas meja.

Hanin tersentak. Ia membaca kembali dalam hati apa yang ia tuliskan sore tadi di kertas itu.

Aku membencimu bagai angin yang menyapu dedauan hingga porak poranda. Seperti malam yang mengusir  keindahan senja. Bagai denting yang memecah waktu dan membuatnya tak dapat kembali berputar. 

Aku membenci kehadiranmu jauh lebih besar daripada kepergianmu. Kehadiran mengundang segala keinginan untuk memilikimu tapi kau pergi bersamanya tanpa membawa semua kenangan yang telah kau beri. 

Aku membencimu karena aku terlalu mencintaimu.

"Coretan di kertas itu ngga berarti apa pun. Jadi jangan sok tahu!"

"Kenapa yah, saya melihatnya ngga seperti itu?" Araya bertanya sambil mengangkat kedua alisnya.

"Jangan keluar jalur, Mas Araya! Urusan kita hanyalah gaun pernikahan. Ngga lebih. Karena saya ngga tertarik masuk dalam cerita kehidupan siapa pun. Jadi lebih baik Mas urus saja cerita Mas Araya dan Mba Tyana."

Hanin bergegas pergi dari meja makan. Ia berusaha keras menjaga sopan santun miliknya karena ucapan Araya benar-benar membuatnya tersinggung. 

Araya hanya tersenyum tipis sambil sambil memandang kepergian Hanin. Ia meneguk kembali air minumnya sembari bergumam.
"Kau akan masuk dalam cerita kehidupanku dan Tyana, Hanin. Dengan cepat dan tanpa kau sadari."

~bersambung~

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "CINTA UNTUK HANIN part V SEBUAH CORETAN"

  1. Seru ceritanya, berbakat jadi penulis nih #Duniafaisol

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.