MISTERI VIOLET Part III TAMU DARI KOTA


Baca Bab Sebelumnya
Misteri Violet Part I
Misteri Violet Part II

Rizal mengangkat bahu saat mendapati Randi menatapnya dengan bingung. Ia hanya mengatakan apa yang ia ketahui dari pengamatan sekilasnya pada mayat gadis ini.

Rizal kembali berjongkok di depan mayat gadis itu.

"Kau juga harus melihat yang satu ini, Jagoan." Rizal berucap sambil menarik celana panjang Randi yang berwarna khaki hingga pemuda itu ikut berjongkok tepat di sampingnya.

Randi mengikuti gerakan tangan Rizal yang mengarah pada bagian dada bagian atas sebelah kiri mayat itu. Randi melihat Rizal menyingkirkan sedikit pakaian yang menempel pada dada gadis itu. Randi mengangkat alisnya sebelah saat melihatnya Di dada atas sebelah kiri mayat itu terdapat tatto bertuliskan Violet.

"Mungkin nama gadis ini Violet." celetuk Randi.

"Aku belum selesai, Ran. Masih ada yang harus kau lihat." tambah Rizal.

Kini tangan Rizal beralih ke bagian pinggang sebelah kiri mayat itu. Ia kembali mengangkat pakaian bagian atas dan memperlihatkannya ke arah Randi. Randi melihat terdapat sebuah jahitan panjang di bagian lambung mayat itu.

Sebuah dering telepon membuyarkan mereka berdua. Randi berdiri kemudian mengambil ponsel pintarnya dari dalam saku celana dinasnya. Layarnya berkedip, menampilkan nama Tetua Desa.

"Ya, Pak Tetua." sapa Randi kemudian mendengarkan suara dari seberang sana dengan serius.

Randi kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku setelah percakapan singkat itu selesai. Randi membatalkan niatnya untuk kembali berjongkok di samping Rizal ketika mendengar suara deru sebuah mobil. 

Randi membalikkan badan dan melihat ke arah mobil itu yang parkir di samping jeep-nya. Ketiga pintu mobil Land Cruiser keluaran tahun 2016 terbuka hampir bersamaan. Dua orang laki-laki bertubuh atletis menggunakan setelan jas berwarna hitam keluar dari pintu depan dan satu orang wanita yang juga menggunakan setelan jas hitam keluar dari pintu penumpang bagian tengah.

Ketiga orang itu berjalan menembus kerumunan menghampiri Randi. Rizal telah bangkit dari jongkoknya dan berdiri tepat di samping Randi.

"Siapa mereka, Ran?"

"Entahlah. Tadi Tetua Desa menelpon mengatakan bahwa mereka akan kemari. Tapi tidak menjelaskan kepadaku siapa mereka itu." jawab Randi.

Ketiga orang itu telah sampai di hadapan Randi dan Rizal. Salah seorang laki-laki yang Randi perkirakan memiliki usia lima belas tahun di atasnya tersenyum lalu mengulurkan tangannya.



"Komandan Randi, saya Lukas. Ini teman saya Gio dan juga Savitri. Kami agen penyelidikan swasta resmi dari Ibu Kota. Kami telah mendapatkan berita tentang penemuan mayat seorang gadis di desa ini." Lukas mengenalkan diri sambil memperlihatkan sebuah kartu identitas yang tertulis nama sebuah perusahaan jasa penyelidikan swasta terkenal di negara ini.

Randi dan Rizal menyambut jabatan tangan dari mereka satu per satu. Agen penyelidikan swasta dari Ibu Kota, Randi menaikan alis matanya bergantian saat mengingat kalimat itu. Karena itu sama saja artinya bahwa ia harus menyerahkan mayat gadis ini kepada mereka. 

"Dan apa urusan kalian dengan mayat gadis ini, Pak Lukas?" tanya Randi.

"Kami menangani kasus seorang pengusaha yang sedang kehilangan anak gadisnya. Sudah hampir satu bulan kami mencarinya. Hmm ... ini ciri-ciri dari gadis yang kami cari." Jelas Lukas kemudian Savitri melangkah ke depan Randi sambil memberikan tiga buah lembar foto.

Randi menerima dan melihat foto-foto itu bersama Rizal. Lembar pertama memperlihatkan sebuah foto tampak dekat wajah gadis cantik berkulit putih sedang tersenyum memamerkan lesung pipitnya. Lembar kedua memperlihatkan gadis itu sedang berfoto menggunakan tank top berwarna kuning yang memperlihatkan sebagian tatto di atas dadanya. Pada lembar terakhir menampakkan penampilan foto seluruh tubuh gadis itu, masih dengan tank top berwarna kuning yang dipadu dengan celana jeans.

Randi dan Rizal saling beradu pandang.

"Itu adalah foto terakhir gadis yang kami cari. Foto itu diberikan oleh ayahnya kepada kami." Kali ini Savitri yang berbicara membuat Randi menatapnya beberapa saat.

"Jadi bagaimana, Komandan Randi? Apakah mayat di belakang kalian memiliki ciri-ciri yang sama dengan foto yang kami berikan?" tanya Lukas.

"Ya, kalian telah menemukannya," jawab Randi sambil mengembalikan foto-foto tadi.

Savitri menerima foto itu namun kemudian memberikannya kepada Lukas. Setelah itu itu, Savitri maju dan berhenti di depan mayat gadis itu. Savitri kemudian berjongkok dan melakukan pemeriksaan yang diperlukan. Rizal mengamati apa saja yang Savitri lakukan.

Tak lama Savitri selesai dan kembali berdiri di antara mereka.

"Ya, Pak Lukas. Kita berhasil menemukannya." Jelas Savitri.

"Baik. Terima kasih atas kerja samanya, Komandan Randi. Sekarang izinkan kami mengurus semuanya," ucap Lukas.

Randi terdiam sejenak. Ia melihat Gio telah berdiri di samping mayat gadis itu dan bersiap membawanya.

"Saya rasa kalian membutuhkan kantung jenazah untuknya." Randi menyerahkan kantung jenazah yang ia bawa dari tadi.

Lukas tersenyum saat menerimanya dan segera memberikan kepada Gio. 

"Oya, saya juga bisa mengantar kalian hingga ke rumah Tetua Desa. Kalian akan menuju ke sana kan?  Mayat itu tidak akan muat di mobil kalian. Kita bisa membawanya di bak belakang mobilku," tambah Randi.

Lukas tampak memikirkan hal itu dan mempertimbangkannya. Setelah ia menatap Gio dan Savitri secara bergantian, ia mengangguk kepada Randi.

Gio dibantu beberapa warga membawa kantung jenazah itu dengan berhati-hati ke bak bagian belakang jeep Randi. Setelah itu, Randi menutup terpal ke seluruh bagian bak dengan rapi. 

Randi dan Rizal segera masuk ke bagian depan jeep.

"Pak Randi, saya ikut yah," ucap Pak Yanuar yang langsung duduk di samping Rizal tanpa menunggu jawaban.

"Jangan suruh saya di belakang ah, Pak Rizal. Gapapa yah sempit-sempitan." tambah Pak Yanuar saat melihat ekspresi wajah Rizal yang sedikit keberatan. Rizal pun terpaksa mengangguk dengan berat hati. Randi hanya tersenyum melihat mereka. 

Randi terdiam sambil memegang setir, ia menatap ke mobil yang berada di samping jeep-nya. Matanya mengekor pada gadis hitam manis yang sedang berjalan sambil sesekali merapikan rambut lurusnya yang ditingkahi angin pantai. Gadis itu berhenti sejenak saat tangannya memegang pintu mobil, kemudian tanpa Randi sangka gadis itu melemparkan pandangan tepat ke arahnya. Mereka saling bertatap selama beberapa detik.

"Jangan lupa nanti minta nopenya, biar bisa chat, Ran." celetuk Rizal.

Randi hanya menanggapi dengan lirikan enggan. 

"Tadi aku lihat dia memeriksa bagian perut jenazah itu."

"Savitri maksudmu, Zal?" sela Randi sambil melirik kembali ke arah tadi dan mendapati Savitri telah masuk ke dalam mobil.

"Oh ya, cepat sekali kau mengingat nama gadis itu." 

Randi menoleh ke arah Rizal sambil dengan wajah masam.

"Hey tenang, Randi. Jangan menatapku seperti itu. Ya, setidaknya aku lebih lega jika kau lebih tertarik dengan Savitri ketimbang dengan Violet." tambah Rizal.

"Ya masa' tertarik sama orang mati ya, Pak Rizal?" Celetukkan Pak Yanuar disambut tawa mereka berdua. Sedang Randi hanya menggeleng-geleng kepala.

"Gadismu itu memeriksa jahitan yang berada di perut Violet."

Randi berusaha mencerna kata-kata Rizal. Jahitan di perut Violet jelas lebih menarik dari sebutan 'gadismu' yang diberikan oleh Rizal padanya.

"Dalam perut Violet, terdapat sesuatu yang tidak dapat dihancurkan dengan sistem pencernaan." ucap Rizal lagi.

"Dan apa itu menurutmu, Zal?" tanya Randi.

"Aku bukan dukun yang dapat melihat sesuatu dalam tubuh seseorang secara langsung. Jadi, ya ... saat ini aku belum tahu apa itu. Kecuali kau memberiku waktu untuk membedahnya."

Randi kembali menoleh sesaat ke arah Rizal. Kemudian pandangannya kembali lurus menatap pasir-pasir yang berterbangan saat memberi ruang roda-roda jeep-nya menuju aspal.


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MISTERI VIOLET Part III TAMU DARI KOTA"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.