CINTA UNTUK HANIN Part II LAMARAN



Mulut Hanin telah terbuka, ia siap menimpali ucapan Afifah. Namun hal itu urung ia lakukan karena melihat Masithoh yang mencegahnya dengan gelengan kepala.

“Kamu pasti belum minum obat pagi ini kan, Afifah?” ucap Mashitoh sambil mencari tempat obat yang telah ia berikan kepada Afifah sebelum keluar kamar tadi. Tak lama kemudian, ia berhasil menemukannya di bawah bantal. Tanpa menunggu lagi, Mashitoh memberikan obat sesuai dosis yang tertera kemudian memberikan air minum. Ia memandang Afifah. Memastikan agar obat itu terminum semua.

Afifah menurut. Telah lama Mashitoh tak ubahnya seperti kakak bagi Afifah. Usia mereka hanya terpaut dua tahun. Mashitoh mengajukan lamaran kepada Afifah untuk menjadi istri kedua Yazid yaitu suaminya sendiri. Saat itu, Mashitoh merasa Afifah adalah gadis yang paling tepat untuk menjadi adik madunya setelah hampir sepuluh tahun ia tak dapat memberikan keturunan.

Hanin hadir setelah satu tahun menjalani pernikahan Yazid. Semua merasa gembira. Disusul oleh Khoiriah dan Zalikha yang masing-masing berjarak satu tahun. Keadaan rumah berubah menjadi ramai. Masithoh tidak segan membantu Afifah mengurus putri-putrinya. Di antara putri mereka semua, Hanin adalah putri yang paling dekat dengan Mashitoh. Ia sering berlari ke rumah Mashitoh yang berdampingan di sebelah rumah yang ditempati oleh Afifah. Entah itu bermain, mandi, makan atau pun tidur bersama baik di hari biasa atau saat hari di mana Yazid harus bermalam di rumah Afifah. 



Dua tahun dari kelahiran Zalikha, Mashitoh mengandung. Ia memberikan dua orang putri untuk Yazid yaitu Ilma dan Khalila. Tapi hal itu tidak merusak hubungan di antara mereka semua. Walau riak kecil kadang menerpa, mereka hanya menganggap sebagai bumbu rumah tangga. Dan saat Khalila berusia hampir enam tahun, Annisa hadir di antara mereka.

Hanin masih berdiri di samping ranjang. Ia berusaha keras menahan lidahnya agar tidak berdebat dengan Afifah. Bagaimana pun, ia tidak ingin tekanan darah tinggi Afifah kembali menyerang.

“Annisa saja sudah hamil anak kedua. Sedangkan kamu?” seru Afifah dengan mata mendelik ke arah Hanin.

“Pokoknya kamu ngga boleh menolak lamaran Khalif kali ini. Ammih ngga terima alesan apa pun!”

Kedua tangan Hanin mengepal, mencengkeram gamis magenta yang ia pakai. Rahangnya mengatup rapat. Matanya kembali berkaca-kaca. Kenapa situasi ia dan ibu kandungnya menjadi sulit seperti ini? Bahkan saat ia belum sempat memberikan peluk kerinduan seorang anak kepada Afifah.

“Ummi masak gurame pedas hari ini. Ayo kita makan, Hanin. Kamu pasti lapar.” ucap Mashitoh meredakan hawa panas sebelum terjadi ledakan di dalam kamar.

“Tidur saja, Afifah. Kalau udah sembuh, baru kamu lanjutkan omelanmu pada Hanin.” 

Mashitoh menggandeng Hanin keluar dan menutup pintu kamar agar Afifah dapat beristirahat, membawa Hanin ke meja makan. Mashitoh membuka tudung saji, membuat aroma masakan menguar ke seluruh ruangan.

“Jangan biarkan emosi mengusir selera makanmu, Hanin. Ummi udah masak dari ba’da subuh. Khusus untuk kamu.” ucap Mashithoh sambil tersenyum.


Hanin duduk sambil menghirup aroma masakan favoritnya. Ia menyambut sepiring nasi yang diberikan oleh Mashitoh.

“Assalamualaikum…” Suara Annisa terdengar, ia setengah berlari menuju ruang makan.



“Waalaikumsalam.” Hanin menjawab bersamaan dengan Mashitoh.

“Mba Haniiiiiin…, kangeeen… Jahat, ih. Lupa ya sama keluarga? Lupa sama yang lain gapapa sih, Mba. Tapi jangan lupain adikmu yang paling cantik ini lho.” Annisa memeluk Hanin erat tanpa berhenti berbicara.

“Cantik? Masa sih? Orang buncit begitu.” 

“Ih, Mba Hanin. Iyalah. Mana ada orang hamil yang singset perutnya?” sahut Annisa sambil mencubit Hanin.

Mereka tertawa bersama. Hanin memang sering menggoda Annisa. Mashitoh juga memberikan piring berisi nasi pada Annisa. Mashitoh meminta mereka untuk segera makan dan melarang mereka bercakap-cakap.

“Kok penampilan kamu sekarang begini sih, Nis? Jadi tomboy sekarang?” tanya Hanin begitu mereka selesai makan.

Hanin membawa piring satu persatu ke dapur sambil melihat Annisa dengan heran. Bukan karena jilbab langsung berbahan kaus pendek yang dipakai, tetapi karena Annisa tidak menggunakan gamis seperti biasanya, ia memakai kaus dan rok panjang.

“Kata orang sih. Mungkin anakku yang ini laki-laki, Mba.”

Annisa menyusul Hanin yang sedang mencuci piring.

“Aku sih belum USG, Mba. Lagian baru empat bulan, nanti ajalah kalau sudah tujuh bulan. Tapi ya gini, aku suka pakai kaus suamiku. Sampai-sampai pakai sepatunya juga.”

Hanin tertawa kecil mendengarnya. Memang itulah yang sering ia lakukan saat bersama Annisa. Cukup mendengarkan. Karena tanpa diminta, adik bungsunya itu akan menceritakan apa saja.

“Aku lagi ngidam nih, Mba.”
“Oya, ngidam apa sekarang?” Hanin membasuh tangannya karena telah selesai mencuci piring.

Mereka berdua keluar rumah melalui pintu belakang. Duduk menikmati angin di bawah pohon jambu belakang rumah Ummi dan Ammih yang sekaligus berada di depan rumah Annisa dan suaminya. Karena Yazid membangun sebuah rumah kecil di halaman belakang untuk keluarga Annisa.

“Pengen sepatu Nike terbaru,” jawab Annisa yang kemudian mengeluarkan ponsel pintarnya. 

Hanin ikut melihat ke layar ponsel. Annisa mengetik kata sepatu nike terbaru dan harganya. Lalu muncullah model-model sepatu yang membuat wajah Annisa semringah.

“Yang ini lho, Mba. Aku suka. Sepatuku udah sempit semua. Sepatu suamiku juga. Kakiku membesar tak terkira nih, Mba.”

“Ya beli saja.”
“Ngga boleh sama Ammih. Aku keceplosan waktu itu soalnya. Mulai deh Ammih bilang inilah, itulah.”

“Order aja langsung, nanti Mba yang bayar.” 
“Serius, Mba?”
“Iya. Mba serius. Sepertinya modelnya ngga berbahaya untuk ibu hamil.”

“Alhamdulillaah. Ammih mah ngga pengertian orangnya. Lagian kalau nanti aku udah lahiran kan sepatunya bisa dipakai suamiku ya, Mba. Terus nanti aku bisa minta beliin sepatu perempuan lagi deh sama Mba Hanin.” Tukas Annisa sambil terus mengetik orderan sepatu idamannya.

“Eh, kok begitu?”
“Iyalah, Mba. Kan sama adik bungsuuuu...” 

Hanin hanya bisa tertawa mendengar pemintaan Annisa. Annisa memang anak yang manja pada siapa saja. Saat ini usia Annisa memasuki dua puluh satu tahun. Ia memang menikah di usia muda dan karena itulah, suami Annisa bersedia tinggal bersama di sini. 
“Mba Hanin, udah ketemu sama Ammih?” tanya Annisa setelah ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku.

“Udah.”
“Hmmm… udah tau berita tentang….”
Hanin menatap Annisa yang terlihat ragu meneruskan ucapannya itu.

“Udah. Tapi cuma sekilas.”

“Waktu aku telepon Mba minggu lalu. Sebenernya aku mau cerita, Mba. Tapi dilarang sama Ummi Mashitoh. Ummi takut kalau aku cerita, malah nantinya Mba Hanin ngga mau dateng. Jadi ya aku bilang aja tentang sakitnya Ammih.”

Hanin memang kerap berkomunikasi dengan Annisa dibanding adik-adiknya yang lain. Ia kini menatap Annisa dengan wajah enggan. Tapi ia juga ingin tahu kenapa kisah lama itu mencuat kembali.

“Sebulan lalu Mba Fauza datang ke sini. Dia bertemu dengan Ummi dan juga Ammih. Mba Fauza meminta agar Mba Hanin mau menjadi istri keduanya Mas Khalif.”

Hanin menelan ludah. Pantas saja Afifah begitu semangat memintanya menerima Khalif. Mungkin karena Afifah merasa melihat kembali kisah masa mudanya.

Bersambung

Baca Bab berikutnya
Cinta Untuk Hanin Part III


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "CINTA UNTUK HANIN Part II LAMARAN"

  1. Ini contoh cerita fiksi tentang poligami yang bisa hidup berdampingan ya

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.