CINTA UNTUK HANIN part I KAMPUNG HALAMAN

CINTA UNTUK HANIN part I KAMPUNG HALAMAN

Hanin menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan tua berdesain sederhana. Rumah yang tidak dilihatnya selama dua belas tahun. Memang tidak ada masalah dengan rumah ini. Ia harus mengakui bahwa masalah itu ada pada dirinya sendiri. Hingga ia bertaruh waktu habis-habisan meninggalkan Kota Jogja, di mana keluarga besarnya tinggal juga tempat ia dilahirkan.

Hanin menarik napas panjang. Tangannya masih tetap di atas kemudi. Ia melepas sabuk pengaman lalu membuka pintu dan keluar dari Etios Valco merahnya. Ia berdiri mematung satu langkah di depan pintu mobilnya. Menatap rumah yang terdiri dari dua bangunan berdampingan itu. Di matanya berkelebat enam orang anak yang berusia kecil hingga remaja. Semuanya anak perempuan, mereka asik bermain di teras dan juga halaman rumah yang luas. Mulai dari bermain bekel, lompat karet di bawah pohon mangga atau mencorat-coret tembok. 

Hanin menelan ludah dan matanya mulai berkaca-kaca. Tak bisa dipungkiri, ia merindukan kelima adik perempuannya. Khoiriah, Zalikha, Ilma, Khalila dan Annisa. Mereka semua telah meninggalkan rumah ini, membina rumah tangga bersama suami masing-masing. Kecuali keluarga Annisa, adik bungsu Hanin yang sedang hamil anak kedua.

Hanin membetulkan ujung jilbabnya yang menari karena terpaan angin. Ia kembangkan senyuman lebar guna menepis semua keraguan untuk kembali ke dalam. Ini rumah ketiga orang tuanya. Jadi bisa dibilang  bahwa ini juga adalah rumahnya.



Hanin memantapkan langkah menuju teras rumah. Sebelum ia memberi salam, seorang wanita dengan gamis dan hijab panjang berwarna hijau lumut berdiri di depan pintu. Hanin segera melepas sepatu dan berlari kemudian mencium tangan lalu memeluk wanita itu.

“Assalamualaikum, Ummiiii…” 

Wanita itu menjawab sambil menyambut hangat pelukan Hanin. Air mata haru mewarnai kerinduan di antara mereka.

“Kamu sehat, Nak?”

Hanin mengangguk sambil tersenyum.

“Ayo masuk. Kamu pasti lelah. Jakarta-Jogja itu bukan jarak yang dekat. Bawa mobil sendirian,-- Ya Allah, Hanin.” 

Hanin sadar, ada kalimat terputus dari lidah Mashitoh. Ia tahu ummi-nya adalah wanita lembut yang selalu menjaga perasaan orang lain.

“Abi sudah berangkat, Ummi?” 

“Sudah, pukul delapan tadi. Abi titip salam. Sebenarnya ingin menyambutmu. Tapi ada tamu dari Jakarta juga yang ingin melihat konveksi dan juga butik.”

Mashitoh menggandeng Hanin saat mereka berjalan menuju ruang tengah dan berhenti di depan sebuah kamar.

“Bagaimana keadaannya, Ummi?” tanya Hanin sambil menatap ke arah kamar.

“Tidak seburuk yang kita pikirkan. Baru selesai sarapan.”

“Ummi yakin?”

“Masuklah. Dia seperti ini karena merindukanmu, Hanin.”

“Temani Hanin, Ummi.”

Mashitoh tersenyum kemudian mengangguk dan kembali menggandeng Hanin. 

Mashitoh membuka pintu kamar perlahan. Hanin berhenti di depan pintu kamar, memandang punggung Mashitoh yang terus berjalan menuju ranjang. Hanin mencoba menata perasaannya. Mengingat pertemuan terakhir sebelum ia meninggalkan rumah ini. Sebuah pertengkaran hebat terjadi antara Hanin dan seorang wanita yang sedang duduk bersandar di ranjang.

“Assalamualaikum, Ammih,” ucap Hanin berhati-hati.

Mata Hanin menatap kedua wanita yang berada di depannya. Mereka tampak seperti saudara kandung. Mashitoh memegang bahu Afifah yang kini menatap ke arah Hanin dari atas ranjangnya. Mereka menjawab salam tetapi Hanin tahu jika Afifah mulai menghilangkan senyumnya saat melihat kedatangan Hanin.

“Masuklah, Hanin,” pinta Mashitoh.

Hanin melangkah sambil menata perasaannya. Afifah yang sakit adalah alasan pertama ia kembali. Hanin mencium tangan dan juga kedua pipi Ammih.

“Akhirnya kamu ingat juga untuk pulang,” ucap Afifah tanpa memandang ke arah Hanin.

“Maaf, Ammih. Hanin baru bisa datang. Alhamdulillaah, Ammih sudah pulang dari rumah sakit.”



“Mana suamimu?” 

Hanin menunduk. Ia sempat melihat Mashitoh menekan pundak Afifah sebentar.

“Hanin baru saja sampai, Afifah. Ia sangat merindukanmu,” ucap Mashitoh mencoba menenangkan suasana.


Hanin paham benar sikap kedua wanita di depannya. Mashitoh selalu lembut dan tenang, wanita itu bisa memberikan keteduhan bagi siapa saja yang memandang wajahnya. Berbeda dengan Afifah, wanita yang melahirkannya itu lebih mudah meletup ketika emosi dan juga keras kepala. Dan sayangnya, dua sifat ibu kandungnya itu menurun sempurna pada dirinya.

“Hanin belum menikah, Ammih. Pasti Ammih tahu kan? Hanin minta, Ammih jangan bosan mendoakan Hanin,” jawab Hanin. 

“Baguslah. Kalau begitu kamu memang berjodoh dengan Khalif.”

Kening Hanin berkerut, ia mencoba menelaah ucapan yang baru saja didengar.

“Mba Mashitoh, apa Mba ngga ngasih tau lamaran itu ke Hanin?” tanya Afifah sambil menatap Mashitoh yang menggeleng pelan.

“Kita bisa membicarakannya nanti, Afifah. Sekarang biarlah Hanin istirahat. Begitu juga kamu. Jangan berpikir macam-macam dulu.”

Afifah menatap Hanin sesaat dengan tajam dan berucap,
“jangan coba-coba menolak lamaran itu, Hanin! Kesempatan tidak akan datang dua kali.”
~Bersambung~

Baca Bab berikutnya
Cinta Untuk Hanin Part II Lamaran


Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "CINTA UNTUK HANIN part I KAMPUNG HALAMAN"

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.