MISTERI VIOLET Part II PERMINTAAN TETUA DESA



Baca Sebelumnya:
Misteri Violet Part I Mayat Di Balai Desa

Matahari semakin terik. Warga yang berkumpul bukan hanya kaum lelaki yang baru datang atau yang hendak berangkat melaut. Tetapi juga para ibu-ibu dan anak-anak.
Rizal sibuk dengan pena di tangan, mencatat segala yang ia dapat dari pengamatan. Randi memandang ke arah warga yang semakin banyak. 

"Aku setuju dengan usulmu, Zal. Sebaiknya kita evakuasi dan mengirim mayat ini dengan segera."

Rizal mengangguk pelan sambil terus mencatat.
Randi berjalan meninggalkan Rizal sambil sesekali membuang pandangan ke arah lautan, perahu-perahu nelayan bertengger di pinggir pantai. Pantai kali ini terlihat sepi, tentu saja karena para nelayan ikut berkerumun di balai desa.

Sesampainya di mobil, Randi membuka terpal lusuh yang membungkus bak terbuka bagian belakang, ia mengambil sebuah kantong yang terbuat dari plastik besar berwarna kuning. Belum sempat Randi berpaling dari mobil tuanya, seorang warga laki-laki memanggil sambil berlari di atas tanah berpasir hitam sambil membawa sebuah bambu yang biasa dipakai untuk menyangga perahu. 

"Pak Randi ..., Paaak ...."

Randi yang masih berdiri di belakang bak mobil menoleh ke kiri arah datangnya suara, tangan kiri Randi memegang kantong jenazah dalam keadaan terlipat sedang tangan kanannya sibuk merapikan terpal penutup bak mobilnya.

"Pak Yanuar? Ada apa?"

Lelaki tua itu telah sampai di samping Randi. Peluh menetes dari dahi dan tubuh hingga menembus baju yang dikenakan. Tangan kanannya memegang bambu dan tangan kirinya memegang lutut sambil sedikit membungkuk. Sambil mengatur napas, sesekali Pak Yanuar mengangkat kaki kanan menggaruk betis sebelahnya tanpa melepaskan sandal yang ia kenakan. 

"Rumah Tetua Desa kebobolan, Pak."

Randi menyatukan lalu mengangkat sebelah alisnya memandang Pak Yanuar yang masih terengah-terengah.

"Kebobolan gimana, Pak Yanuar?"



Tubuh Randi bergerak menghadap Pak Yanuar, tangan kanannya kini berada di dalam saku celana dan menatap Pak Yanuar dengan serius.

"Kemalingan, Pak. Beberapa barang langka yang disimpan di sana hilang. Banyak, Pak hilangnya. Rata-rata barang langka yang didapat dari kapal pesiar yang waktu itu nabrak kapal selam itu."

Randi mengangkat alis sebelah kanannya. Ternyata bukan hanya masalah mayat wanita itu yang mampir ke desa ini. Tetapi para perampok pun ikut hadir. Apakah ini semua saling berhubungan satu sama lain? Otak Randi semakin bekerja memikirkan masalah ini.

"Pak Yanuar, saya tidak bisa ke rumah Tetua Desa sekarang. Mayat itu harus segera diurus. Nanti setelah selesai baru saya bisa ke sana."

Randi melangkah diikuti Pak Yanuar, mereka kembali menuju halaman balai desa di mana Rizal masih sibuk mencatat perihal gadis kaku di hadapannya.

"Iya, Pak. Pagi tadi saya juga sudah mendengar masalah ini, Tetua Desa juga sudah tahu. Tetua bilang, bawa saja dulu mayat itu ke rumah Tetua, sekalian Tetua mau melihatnya."

Langkah Randi mendadak berhenti. Kata-kata Pak Yanuar membuat Randi kembali mengangkat sebelah alisnya. Randi berpikir, mungkin Tetua Desa lupa bahwa yang ia temukan kali ini adalah mayat, bukan barang-barang antik yang biasa ditemukan para nelayan kemudian disimpan di ruangan di samping rumah Tetua Desa yang telah dianggap menjadi museum. Pak Yanuar yang berada dua langkah di depan ikut berhenti dan menatap Randi dengan wajah tuanya yang bingung. Randi mengembuskan napas panjang tanpa melontarkan apa yang ada di benaknya, lalu kembali berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepala. 

Setelah menembus kerumunan para warga, Randi berdiri kembali di samping Rizal. Pak Yanuar menatap mayat gadis itu sambil bergidik, langsung terlintas tentang kisah arwah penasaran korban pembunuhan yang siap membalas dendam pada semua orang.

"Rumah Tetua Desa kerampokan. Aku diminta ke sana. Sial. Tetua memintaku membawa mayat gadis ini. Apa dia tidak berpikir bahwa mayat ini akan segera berubah bentuk dan berbau jika tidak segera kita urus?"

Rizal berhenti mencatat, ia mendengarkan dan menatap Randi yang telah berjongkok mempersiapkan kantong mayat untuk gadis itu. 

"Hmm..., aku rasa kali ini kau salah, Jagoan."

Randi berdiri, ia telah selesai mempersiapkan kantong mayat dan berbalik menatap Rizal. 

"Apa maksudmu, Zal?"

"Gadis ini tidak akan berubah bentuk atau pun berbau untuk beberapa hari ke depan. Dia telah diawetkan. Tetapi aku tidak bisa memastikan kapan dan bagaimana, untuk menjawab hal itu aku perlu penelitian lebih lanjut di laboratorium,"

Rizal menjelaskan sambil membetulkan letak kacamata lalu memeriksa catatannya, 

"aroma formalin sangat menyengat dari tubuh gadis ini, Randi. Hmm..., setidaknya ia telah mati lebih dari satu minggu. Tapi, aku penasaran, kira-kira zat apa yang digunakan hingga dapat membuat gadis ini lebih lentur dari mayat-mayat lain seusianya?"

"Hah??!!"

Mata Randi terbelalak mendengar penjelasan Rizal. Orang gila mana yang telah melakukan hal seperti ini? Dan, untuk apa?

~Bersambung~

Misteri Violet Part III

Cerita selanjutnya akan dipost di app Novel Nusantara.
Bisa download di playstore yah.



Subscribe to receive free email updates:

3 Responses to "MISTERI VIOLET Part II PERMINTAAN TETUA DESA"

  1. Saya sudah baca yang pertama, ceritanya seru. Nggak sabar nunggu lanjutannya.. :)

    ReplyDelete
  2. Hadah, bacanya pas sendirian malem2. Seyem :)

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.