MISTERI VIOLET Part I MAYAT DI BALAI DESA

MISTERI VIOLET Part I MAYAT DI BALAI DESA

Randi melajukan mobil dengan kencang menuju balai desa. Ini adalah pertama kalinya ia mendapatkan kasus pembunuhan di desa ini. Walau sebenarnya ini bukanlah kasus kriminalitas yang pertama kali ia tangani. 

Randi seorang polisi bagian kriminalitas di Ibu Kota tujuh tahun yang lalu. Ia harus menerima mutasi sebagai upah dari kesalahan yang ia lakukan saat bertugas. Ia telah menembak gembong narkotika saat penggerebekan. Sayangnya, gembong narkotika itu adalah putra dari seorang penyandang dana kampanye terbesar seseorang yang akhirnya berhasil terpilih sebagai pemimpin negeri. Nasib bagus Randi masih hidup. Ia mendapatkan perlindungan dari atasan karena prestasinya selama bekerja. Dan, konsekuensinya Randi harus rela berada di Desa Nelayan---ujung Selat Sunda.

Balai desa telah ramai dengan penduduk saat Randi tiba. Randi turun dari mobil bak terbukanya. Berjalan menembus kerumunan tubuh-tubuh kekar dan legam berkepala caping yang berkumpul di sana. Di tengah-tengah kerumunan, tepatnya di tangga teras balai desa, sebuah tubuh terbujur kaku.

Polgan


Randi meminta para warga yang biasa melaut itu untuk mundur, ia segera memasang garis pembatas berwarna kuning untuk memudahkannya memeriksa apa yang sedang terjadi. Pasir hitam yang terhampar di halaman balai desa terlihat begitu kontras dengan warna kulit sepasang kaki putih pucat milik mayat itu. Mayat seorang gadis muda yang cantik. Tubuh mayat itu terduduk di anak tangga ke tiga, tubuh bagian atasnya bersandar pada anak tangga ke empat dan seterusnya. Tangan kirinya lurus ke atas dengan lengan menyangga kepala sedang tangan kanannya mengepal di atas rok yang menutupi bagian paha.



Randi memeriksa tubuh mayat itu setelah ia selesai menggunakan sarung tangannya. Ia menyingkirkan helaian rambut lurus yang menutupi wajah, bibir tipis yang mulai membiru terlihat jelas di antara warna putih mulus wajah yang pucat dan kaku. Jelas terlihat bahwa tak ada kekerasan yang diterima oleh gadis kaku itu. Randi beralih, menelusuri bagian tangan kiri, pun sama, pucat, kaku tetapi tetap dalam kondisi mulus tanpa kekerasan. Kini, mata Randi tertumpu pada tangan kanan gadis itu, ada sesuatu dalam kepalannya. Dengan hati-hati Randi mulai membuka kepalan tangan yang telah kaku itu. Susah payah Randi berhasil mendapatkan secarik kertas lusuh yang kondisinya hampir sobek. Kertas itu hanya bertuliskan sebuah kata, Violet.

Misteri Violet Part I Mayat di Balai Desa


"Apa yang sudah kau dapatkan, Jagoan?"

Seorang lelaki berkacamata memakai jas polos putih bersih telah berdiri di sampingnya.

"Hanya ini, Zal."

Randi menunjukkan secarik kertas yang baru saja ia temukan kepada Rizal, sahabatnya sekaligus seorang dokter yang bertugas mengabdi di desa ini. Rizal ikut berjongkok di samping Randi, membetulkan letak kacamata dan mulai menyapukan pandangannya ke mayat gadis itu.

"Sejauh ini tak ada tanda kekerasan. Entahlah. Kau tentu bisa melakukan pengamatan lebih lanjut, Zal."

Rizal memandang sesaat pada Randi yang telah berdiri.

"Kau ini, Ran. Apa yang kau mau aku lakukan pada gadis ini? Membedahnya seperti beberapa tahun lalu saat kematian beberapa ekor ikan pari? Dan ternyata mereka korban keracunan akibat hancurnya kapal selam pembawa bahan bakar yang bertabrakan dengan kapal pesiar mahal itu?"

"Mungkin."

Randi menjawab sambil mengangkat bahu dan tertawa kecut mendengarnya. 

Teringat betapa antusiasnya ia saat kejadian itu. Ia berpikir bahwa ada senjata pemusnah massal yang sedang digerakkan menuju desa ini. Harus diakui memang, gejolak dan intuisinya sebagai seorang polisi kriminal kadang tak dapat dibendung. Randi memerlukan sebuah kasus lain, selain menandatangani berkas keluar masuknya barang-barang peninggalan zaman dahulu yang tersimpan rapi di rumah Tetua Desa. Rumah yang juga berfungsi sebagai museum prasasti kelautan. Ia merasa bosan berkeliling desa yang warganya selalu rukun.

"Jadi bagaimana, Zal?"

Randi bertanya setelah ia memasukkan kertas yang ia temukan ke dalam plastik sebagai tanda bukti.
Rizal bangkit, kini mereka berdiri berdampingan. 

"Menurutmu haruskah kita menahannya di desa ini, Ran? Apa tidak lebih baik langsung saja kita kirim ke Kota Provinsi. Kau tahu, aku tidak memiliki fasilitas lengkap untuk memeriksa mayat di desa ini." 

Rizal sesekali membetulkan kacamatanya saat berdiskusi sambil sesekali mencatat.

"Jika itu kau lakukan, Zal. Kasus ini tentu akan jatuh pada pihak kepolisian Kota Provinsi."

"Tahan antusiasmu dulu, Ran. Jika kau tahan mayat ini, kau pun tidak akan mendapatkan hasil yang kau mau. Berbeda jika kita kirim, Kota Provinsi telah memiliki laboratorium baru, aku bisa membantumu meminta segala informasi tentang mayat ini. Kau tenanglah. Lagipula belum tentu pihak Kepolisian Kota Provinsi akan tertarik dengan kasus ini."


Misteri Violet Part I Mayat di Balai Desa


Randi menarik napas, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, pandangannya menerawang menatap sebuah bangunan luas berdinding semi permanen serta beratapkan jerami. Andai saja Randi dapat meminta keterangan dari bangunan tua ini, ingin sekali ia bertanya bagaimana gadis malang ini bisa berada di anak-anak tangga kaki bangunan yang menjadi pusat kegiatan tanpa sepengetahuan warga desa ini.

~Bersambung~

Subscribe to receive free email updates:

2 Responses to "MISTERI VIOLET Part I MAYAT DI BALAI DESA"

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.