Pages

SEBUAH KISAH SAAT BERBURU DISKON DI TOKO BUKU

Toko buku

Menulis tanpa membaca sama seperti sebuah smartphone tanpa paket data, blogger pasti tahu rasanya. 

Awalnya saya hanya senang menulis, menuangkan segala imajinasi dan khayalan yang terlintas dalam benak lalu dicerna oleh otak kemudian ditutup dengan tarian jari jemari di atas keyboard. *tsaaaah, berat bener nih kalimat.

Tapi, lama kelamaan saya merasa jika imajinasi saya semakin pendek, output dan input yang dibutuhkan untuk menulis tidak seimbang. Jika dibiarkan kemampuan menulis pun akan diam atau jalan di tempat. Walau pun hal itu tidak berlaku secara mutlak, tetapi, itulah yang saya rasakan. Saya pun mulai mengimbanginya dengan membaca.  

Dalam hal membaca, saya mengikuti selera dalam diri saya, yaitu novel. Semakin sering saya membaca, semakin saya mengenali selera yang saya suka, yaitu novel bergenre thriller tetapi tidak harus horor. Saya sadar dan tidak ingin otak ini penuh dengan kisah-kisah fiksi yang mendebarkan, karena dapat menyebabkan ide menulis di situ-situ saja. Hingga akhirnya saya pun mulai membuka diri dengan berbagai macam buku bacaan, baik itu fiksi atau pun non fiksi.  

Toko buku


Saat ini, menulis dan membaca adalah sebuah kenikmatan  di sela menghadapi kesibukan sebagai ibu rumah tangga. Banyak manfaat yang tentunya saya dapatkan dari membaca, hal ini juga membuat saya meluangkan uang dan juga waktu untuk ke toko buku.

Toko buku yang sering saya kunjungi tentu yang lokasinya terjangkau dengan rumah, biasanya saya mampir bersamaan dengan saat berbelanja bulanan. Pernah satu saat saya berkunjung ke salah satu mall yang sering saya dan keluarga kunjungi di daerah Kelapa Gading, toko buku sedang menggelar acara bookfair dengan memberikan diskon yang membuat saya terkesima. Satu buku dimulai dari harga dua puluh ribuan, banyak novel-novel terjemahan yang menjadi favorit saya. 

Tanpa pikir panjang saya pun menarik suami dan ke dua anak saya untuk memasuki gerai bookfair tersebut, kesempatan belum tentu datang dua kali. Putri sulung saya ikut memilih buku-buku bertema barbie kesukaannya. Saya pun asik memilih buku-buku dari penulis yang saya sukai, setelah puas saya melaju ke kasir.

Toko buku



Setelah selesai melakukan pembayaran terasa ada yang kurang. Saya tidak melihat kehadiran suami dan anak-anak.

Saya kembali menyusuri gerai bookfair yang luas, semua rak buku saya sambangi begitu pula dengan rak yang memutar video edukasi anak-anak. Dengkul saya langsung lemas karena tidak mendapati mereka. Saat itu saya hanya membawa dompet kecil untuk tempat uang, sementara ponsel saya titipkan di dalam tas suami. 

Saya memang tidak berpikir anak-anak saya hilang, karena suami saya yang menjaganya. Tapi, bagaimana jika saya yang hilang? Lho? Yang pasti saat itu saya takut suami marah. Karena saking asiknya memilih buku, saya lupa menjaga anak-anak. 

Setelah tiga kali saya mengelilingi area bookfair, dengan mata berkaca-kaca akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke bagian informasi. Dalam perjalanan kepala saya tetap tengok kanan, tengok kiri, sedih rasanya jika saya dibiarkan pulang sendirian. Hiks.... 

Tak lama mata saya menangkap tiga sosok yang amat penting dalam hidup saya, kedua anak saya sedang asik berada di arena permainan yang berada tidak jauh dari bookfair digelar. Di samping anak-anak, suami melambai-lambaikan tangan ke arah saya. Dengan perasaan lega, saya pun menghampiri mereka.

Toko buku


Saya segera bertanya pada suami kenapa mereka meninggalkan saya, ternyata saat saya asik memilih, suami saya sudah bilang mau mengajak anak-anak ke area permainan karena mereka merajuk terus menerus, setelah putri saya mendapatkan buku yang ia mau, suami saya mengajak mereka bermain sambil memantau keberadaan saya dari jauh.

Buku memang memberikan banyak cerita, termasuk saat kita akan mendapatkannya.






5 comments:

  1. Duh Mbak, Anggrani gegera milih buku sampai lupa anak dan suami, eh hhehh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hu'um. Panik banget, gimana coba kalau aku harus pulang sendirian. Hiks

      Delete
  2. Kalau ke toko buku berasa surga dunia, Gramedia suka gigit jari dan mikir ulang terus, harganya rada gak worth it buat aku xD

    ReplyDelete
  3. Saya juga jangan dikasih diskonan buku deh. Bahaya banget. Uang belanja bias habis di sana. Hihi. Makasih sudah ikutan GAnya yaa.

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.