MENGHINDARI RIYA DAN HASAD DI MEDIA SOSIAL KARENA KEBAIKAN TAK SELALU BAIK DI MATA ORANG LAIN

Dia yang riya atau kita yang hasad?

Pasti pernah lihat kalimat di atas dong? Apalagi para fesbukers.
Sebenarnya sudah lama sekali saya ingin menganalisa hal ini. *tsaaah..., pakar kali ah, pake analisa segala.

Maksud saya kenapa bisa sampai muncul pertanyaan itu. Karena menurut saya yang masih sangat awam ini, kalimat itu bisa menjadi boomerang di antara kita sesama umat muslim.

Ini hanya sekedar rasa khawatir yang terlintas di benak saya, soalnya, sebagai umat Islam kita harus saling menyampaikan kebaikan dan juga saling mengingatkan tentang kewajiban.

Contohnya begini:

Dia yang riya atau kita yang hasad?


Ketika ada seseorang muslimah yang menuliskan tentang betapa ia bersyukur telah memiliki dan selalu memakai hijab serta gamis yang lebar dan menjuntai, ia juga sangat yakin bahwa hijabnya itu dapat membantunya menutup aurat secara sempurna.

Bukan tidak mungkin akan ada tanggapan seseorang yang membaca dan menilai bahwa muslimah itu sedang pamer. Pamer bahwa muslimah itu sudah mengumbar ibadah yang sedang ia lakukan, pamer bahwa telah mampu menutup auratnya secara sempurna, pamer kalau sudah mampu menggunakan hijab  panjang di antara yang lainnya, bahkan bisa saja ada yang beranggapaan kalau ia pamer karena mampu membeli hijab yang harganya mahal.

Dan, bisa saja tanggapan itu bukan hanya terlintas di hati pembaca tetapi ada juga yang langsung membuat Status balasan atau melontarkan pendapat pada kolom komentar.

Dia yang riya atau kita yang hasad?

Astaghfirullaaah....
Sebelum lanjut, istigfar dulu. Karena di benak kita ( saya yang nulis & kamu yang baca ) dari kasus di atas pasti langsung terlintas, ada hasad di antara pembaca.

Jadi, sebaiknya mulai saat ini kita perhatikan hal-hal penting ketika kita akan eksis di media sosial:

~ Jaga hati yang dititip Allah SWT pada kita.
Hadist menjaga hati


Yang paling penting adalah bagaimana kita menahan hati kita dari segala prasangka buruk.

Baca Juga: 
Cantik Dari Hati, Berbaktinya Seorang Putri, Keikhlasan Seorang Ibu dan Kesetiaan Seorang Istri

Bisa saja kan muslimah yang sedang menulis tentang hijab panjangnya itu sedang memotivasi dirinya sendiri untuk istiqomah dalam menutup auratnya secara sempurna, karena perjuangan yang sedang ia lakukan menemukan hambatan yang sangat besar. Jadi biasa kan untuk selalu berpikiran positif agar kita bisa selalu memiliki prasangka baik pada orang lain.

Dia yang riya atau kita yang hasad?


~ Jaga niat

Segala sesuatu berawal dari niat. Jadi sebelum kita menuliskan Status di fb atau pun sebuah komentar. Pasanglah niat yang kuat. Niatkan untuk menulis

Baca Juga:
Ketika Iri Hati Menyerang

kebaikan. Sangatlah manusiawi jika kita tergoda untuk melakukan atau terselip niatan riya, jika itu terjadi, maka cepatlah beristighfar. Agar Allah SWT kembali menjaga hati kita dari segala sesuatu yang membuatnya hitam.

Dia yang riya atau kita yang hasad?


~ Jangan ragu untuk unfollow akun yang tidak sehat

Jika memang ada seseorang yang dianggap memiliki Status tidak sesuai dengan hati kita, walau ia menuliskan kata-kata bijak sekali pun, tapi saat baca, kitanya memiliki perasaan yang gimana gitu...., ya unfoll saja.

Tujuannya apa? Agar kita terhindar dari sifat hasad itu tadi.

~ Menahan diri dan menjauhi perdebatan

Hindari status war dan juga debat. Karena itu tidak bermanfaat sama sekali bahkan dapat membuat kita keras hati.

~ Memerhatikan dan mengolah kalimat yang kita tulis saat membuat Status

Jika ingin memberikan nasihat dalam tulisan, cobalah menambahkan kata untuk memperingati diri sendiri. Karena apa? Hal ini dapat membantu lebih diterima oleh teman-teman yang membaca Status kita, sekaligus benar-benar dilakukan untuk memberikan nasihat pada diri kita sendiri. 

Dia yang riya atau kita yang hasad?

Semoga kita bisa bijaksana dan menjaga diri di dunia maya yang sangat rentan dan sensitif antara pengguna satu dan pengguna lainnya.

Kita tidak akan pernah bisa mengatur sikap para penghuni dunia maya. Tetapi kita bisa menanamkan etika pada diri sendiri saat berinteraksi di media sosial.






Subscribe to receive free email updates:

11 Responses to "MENGHINDARI RIYA DAN HASAD DI MEDIA SOSIAL KARENA KEBAIKAN TAK SELALU BAIK DI MATA ORANG LAIN"

  1. Istimewa! emang dumay gak bisa diatur, sedang ngatur dunia nyata aja susahnya minta ampun ... :)

    ReplyDelete
  2. terimakasih telah mengingatkan mbak... Barakallah

    ReplyDelete
  3. Minggu lalu saya habis memfollow seseorang, awalnya saya masih biarkan karena apa yg dia katakan tidak berpengaruh kepada saya, tapi terakhir dia membuat statement yg sepertinya tidak banget untuk dilihat, akhirnya saya unfollow deh, aman dunia hehe

    ReplyDelete
  4. Setuju...terutama di bagian memperhatikan dan mengelolah kalimat yang akan kita tulis

    Karena kadang bahasa tulisan dan omongan bisa berbeda

    ReplyDelete
  5. sepertinya memang harus "seleksi" akun nih mbak, banyak yang gak jelas hmmmmmm...


    semoga menang ya mbak :)

    ReplyDelete
  6. ya, saya selalu berusaha positive thinking aja. KAlaupun sata itu mood saya kurang baik, dan rasanya akan menjadi berprasangka buruk terhadap orang, lebih baik statusnya saya hide. Daripada saya berprasangka jelek :)

    ReplyDelete
  7. akun facebook saya jarang buat status, hanya untuk share postingan hehe. tapi pasti adaaaa aja pro kontranya hehe

    ReplyDelete
  8. Semoga saya, khususnya, bisa selalu memberikan kebaikan di media sosial.. Tp.. Masih banyak khilafnya :(

    ReplyDelete
  9. susah memang ya mba kalo hidup di era socmed gini, banyak dilemanya. indahnya kalo semua orang positif thinking, husnudzon sama saudaranya

    ReplyDelete
  10. Semoga djauhkan dari riya n hasad

    ReplyDelete
  11. Bener banget Mbak, sebaik apapun niat kita lambe turah n lambe nyiyir ada dimana-mana, yang penting kita bisa bijak bersosmed, ga berlebihan melampaui batas karena di luar sana masih banyak orang yang kelaparan setiap harinya^^

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.