MEMAHAMI ITU (tidak) SULIT

MEMAHAMI ITU (tidak) SULIT
Oleh. Anggarani Ahliah Citra.




“Apa itu sebuah keharusan?”

“Secara umum tidak, tapi bagiku ini adalah sebuah kebutuhan.”

“Aku sama sekali tidak mengerti. Mendengarnya pun baru kali ini. Atau ini hanya akal-akalanmu untuk menjauh dari keluarga?”

“Jangan salah paham, aku melakukan hal ini sedari masa kuliah. Namun kesibukan dunia membuatku jauh, hingga kini aku menikah denganmu. Ketahuilah, aku membutuhkannya untuk memperbaiki diri dan juga kualitas keimananku.”

“Dengan meninggalkan anak dan istri? Apa kau yakin dengan apa yang kau ikuti?”

“Ya, aku yakin.”

Kekesalanku memuncak, apa yang ia lakukan?
Meninggalkanku selama tiga hari?
Kalau begini, lebih baik aku kembali saja ke rumah orang tuaku.


*

Air mata ini tak berhenti meluncur, apa benar suamiku melakukan hal yang benar? Tidur di masjid, apa enaknya? Ustad sebelah saja tidak sampai melakukan hal itu. 

“Makan dulu, Hilda. Tak usah kau pikirkan suamimu. Biar nanti Ayah dan Ibu yang bertanya kepadanya.”

Aku menuruti perintah Ibu.
Ah, makan pun terasa tak enak tanpa dirinya. Bagaimana dengannya? Apa yang ia makan saat ini?

Sudahlah, tak perlu terlalu dipikirkan, toh ada kesibukan selain dengan anak. Ya, aku punya pekerjaan. Jadi tak perlu pusing jika ia meninggalkanku.

*

Tiga hari pun berlalu, ia menjemput di rumah kedua orang tuaku.

“Begini, Nak Ibnu. Ada yang ingin Ayah tanyakan.”

Aku menatap wajah suami yang sama sekali tidak menampakkan rasa ketakutan saat berhadapan dengan keluargaku di ruang tamu ini, berbeda jauh dengan saat ia menyampaikan lamarannya kepadaku dulu.

“Tiga hari ini kamu kemana?”

“Itikaf di Masjid Ar-Rahman Bandung, Yah. Tidak terlalu jauh dari rumah.”

“Sebenarnya aliran agama apa yang kamu ikuti? Kenapa bisa sampai meninggalkan anak dan istri saat Ramadhan seperti ini?”

“Ini bukan aliran, Yah. Ini hanyalah salah satu cara mengikuti sunnah Rasulullah dalam menyampaikan agama.”

“Mana ada yang seperti itu? Jangan mudah mengatasnamakan Rasulullah.”

Nada suara Ayah semakin tinggi.

“Insya Allah, benar, Yah. Rasulullah pun dulu pergi meninggalkan anak dan istrinya saat berdakwah menyebarkan agama Allah SWT.”

“Tapi ini bukan zaman dulu, Islam sudah berkembang, jadi apalagi yang harus disampaikan?”

“Ya, Ayah benar. Saat ini kita tidak perlu lagi mengajak orang untuk memeluk Islam, tapi kita cukup mengingatkan tentang kewajiban yang harus dilaksanakan seseorang yang telah memeluk Islam.”

“Terus kalau tidak ikut kegiatan itu apa berarti dia bukan Islam?”

Pertanyaan Ayah semakin menyudutkan suamiku. Tetapi, aku pun ingin mengetahui jawabannya.

“Bukan begitu, Ayah. Syarat Islam pertama kali adalah mengucapkan dua kalimat syahadat secara lisan, untuk yang terlahir dalam keluarga Islam secara otomatis akan mendapatkan pendidikan tentang Islam. Jika orang tuanya mengetahui maka saat kecil seorang anak akan diajarkan salat yang di dalamnya terkandung dua kalimat syahadat. Yang jadi pertanyaan, apakah saat ini para orang tua sadar akan perannya mengajarkan ilmu agama terhadap anak-anaknya?”

“Berarti kau tidak wajib ikut, bukan?”

“Aku memilih bergabung karena di sini aku bisa banyak belajar tentang agama yang aku anut. Belajar mengingat Allah SWT dalam segala hal dan kegiatan, karena saat kegiatan ini berlangsung, kami diwajibkan selalu membicarakan tentang kebesaran Allah. Agar kalimat Laa ilaha ilallah itu benar-benar bisa masuk ke dalam hati. Agar bisa yakin hanya kepada Allah SWT bukan yang lainnya, dengan cara selalu mengucapkan nama-Nya, dan berharap saat nanti ajal datang menjemput pun dapat menyebut nama-Nya. “

Aku tetap mendengarkan dengan sesekali mengintip ke ruang depan. Ayah tetap memasang wajah tidak suka terhadap tindakan suamiku.

“Pokoknya Ayah tidak ingin kamu meninggalkan anak dan istrimu lagi. Apa pun alasannya.”

Setelah percakapan yang alot, akhirnya aku pun ikut pulang ke rumah. Memang aku kesal tapi sejujurnya aku merasa merindukannya, tapi tak akan kutampakkan. 
Sesekali aku meliriknya, sekedar ingin tahu apakah ia merindukanku.

*

“A’, kemarin itu acaranya apa saja?”

“Itikaf, Dik. Kau pasti pernah mengikuti acara pesantren kilat saat sekolah dulu. Tidak jauh berbeda dengan itu, bangun malam untuk tahajud dan muhasabah diri. Di sana kami melatih diri untuk menghidupkan sunnah Rasulullah selama 24 jam, dari bangun tidur hingga tidur kembali.”

“Laki-laki semuanya, A’?” 

“Iyalah. Mana boleh wanita menginap di masjid? Wanita itu tempatnya di rumah, ibadah pun sebaiknya di rumah.”

Aku pun tersenyum manggut-manggut. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin kusampaikan, tapi hari sudah larut, mungkin esok akan kulanjutkan.

Saat mengajar di sekolah pikiranku terbagi, masih penasaran dengan kegiatan apa yang suamiku ikuti. Aku pun mulai mencari informasi melalui internet. Ternyata benar kegiatan ini sudah mendunia, tetapi tetap tak lepas dari pandangan negatif sebagian orang. Dan, kegiatan yang kemarin suamiku ikuti bukan hanya 3 hari saja tetapi juga ada yang sampai 40 hari bahkan 4 bulan. 

Hah? 

Artinya, suamiku akan seperti itu pula? 

Kekhawatiran tak lepas dari pikiranku. Bagaimana kalau nanti suamiku benar-benar pergi meninggalkanku selama itu?

*

“A’, apa benar nantinya Aa’ akan meninggalkanku selama 40 hari bahkan 4 bulan?”

Serbuku saat ia pulang bekerja.

“Memang metodenya seperti itu. Tapi tidak bisa sembarangan juga, ada tata tertib yang harus diikuti.”

“Pokoknya Aa’ ga boleh ikut-ikut itu lagi.”

Jawabku sambil cemberut.

“Dengarkan dulu, Aa’ belum selesai bicara.”

Aku pun mendengarkan walau dengan enggan.

“Semua dilakukan sesuai dengan kemampuan diri, tidak boleh dipaksakan. Harus lihat juga keadaan perekonomian ...”

“Tuh ‘kan, pasti bayarnya mahal?”
“Bukan seperti itu. Dalam kegiatan ini biaya dikelola oleh diri sendiri. Bekal yang kita bawa diatur sedemikian rupa tidak diserahkan kepada satu orang untuk bertanggung jawab. Dan juga wajib hukumnya untuk meninggalkan bekal untuk keluarga di rumah. Untuk masalah waktu, itu pun harus disesuaikan oleh kemampuan. Seperti kemarin, Aa’ tidak bisa mengikutinya secara penuh, karena pagi sampai sore harus bekerja di pabrik. Jadi hanya malam hari di masjid, padahal yang terpenting adalah waktu ba’da asar, karena saatnya bersilahturahmi ke warga untuk mengajaknya salat berjamaah di masjid dan mendengarkan ta’lim kitab hadist.”

Aku menarik napas mendengar penjelasannya, ada sedikit rasa lega di sana. 

“Yang kubutuhkan adalah pengertianmu, aku melakukan ini bukanlah buang-buang waktu. Tapi aku butuh untuk melatih diri agar bisa terus menjadikan Rasulullah SAW sebagai panutan dalam hidup.”

**

Waktu terus berlalu, dan perlahan aku mencoba memahami suamiku, ia berusaha terus mengikuti kegiatan itikaf itu secara rutin setiap bulannya, tetapi sayang jadwal kerja tidak memungkinkan. Akhirnya ia memutuskan untuk berhenti bekerja, tetapi bukan berarti lepas tanggung jawab atas menafkahi anak dan istri. 


Kini suamiku membuka tempat les kecil-kecilan di rumah dari tingkat TK sampai dengan SMA yang banyak diminati oleh warga sekitar rumah dan hasilnya tak jauh berbeda saat ia bekerja di pabrik.
Aku terus berdoa kepada Allah SWT jika memang ini baik bagi kami tetapkanlah hati kami untuk tetap di jalan dakwah ini sampai akhir hayat nanti.


end
Narasumber: Ahliah Bandung


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "MEMAHAMI ITU (tidak) SULIT"

Post a Comment

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.