Jangan Batasi Mimpimu, Walau Kakimu tengah Terikat


Jangan batasi mimpimu, walaupun kakimu sedang terikat.

Kadang mimpi itu indah saat meng-angankannya, tapi perih saat harus berhadapan dengan kenyataan.

Bermimpi tidak akan sia-sia, walaupun saat ini hanya perih terasa.
Pernahkah kau bayangkan, ternyata mimpi itu awal investasi untuk masa depan anak cucumu?

Beberapa hari lagi, adik laki-laki saya yang paling bungsu, insya Allah, akan ikut tes hafalan 30 juz di Ma’had Tahfiz pusat di Banjarmasin. Moment ini tentu jadi mendebarkan bagi dia, juga bagi kami sekeluarga.

 Adik saya yang perempuan juga penghafal Al-Qur’an dan kebetulan saat ini dia sedang menginap di rumah, sehingga bacaan-bacaan Al-Qur’annya turut menghiasi rumah kami.

Kebahagiaan ini mengingatkan saya beberapa tahun yang silam. Sekitar 15-16 tahun yang lalu.
Kami bukanlah dari keluarga yang agamis. Bahkan sangat jauh dari nilai-nilai agama. Ayah saya seorang pendiam dan mempunyai jiwa seni. Apa pun dari hasil tangannya selalu memuaskan. Uniknya, beliau mempunyai banyak kebisaan. Lukisan, rajutan, jahit sulam, hasil pertukangan, hasil kerajinan alat-alat nelayan, dan beliau pun bisa menyervis mobil dan alat-alat elektronik.

   Beliau juga sangat ulet dan tekun. Kadang seharian penuh beliau menggeluti satu pekerjaan, tanpa jeda. Dalam kondisi itu, tak jarang beliau tidak shalat sama sekali.

            Lalu saya sendiri. Waktu itu, usiaku masih remaja. Bisa dibayangkan kehidupan remaja tanpa roh agama dalam lingkungan keluarga. Sebagai seorang muslim, hanya satu yang tersisa dalam diri saya waktu itu; Jauh dari lubuk hati yang paling dalam, saya takut kepada Allah.

            Saya takut kepada Allah karena tidak memakai jilbab, tapi tak kuasa menentang arus jaman.  Sering pulang dari pesta saya shalat taubat, tapi kenyataannya saya tak bisa menolak semua itu.

Hingga suatu malam yang membuat keluarga kami berubah 180 derjat. Tepatnya bulan Ramadhan, tiada angin tiada hujan, ayah terbuka hatinya melangkahkan kakinya ke mushalla. Yang kebetulan di sana ada rombongan Jamaah Tabligh. Dari situlah bermula, hati ayah mulai terbuka mendalami agama.

Ayah ikut bergabung dengan mereka selama tiga hari. Hasilnya luar biasa. Beliau mulai menjaga shalat fardu dan rajin mengaji. Ternyata bacaan mengaji beliau bagus dan sangat lancar, padahal selama itu saya tidak pernah melihat atau mendengar beliau membaca Al-Qur’an. Perubahan yang sangat luar biasa.

Setelah itu, ayah semakin giat bergabung dengan jamaah tabligh. Pemahaman ayah terhadap agama mulai bertambah dan beribadah semakin rajin. Walaupun tak ada kalimat da’wah keluar dari mulut, perubahan beliau cukup berpengaruh pada keluarga. Saya mulai berani memakai jilbab, padahal saat itu jilbab merupakan hal yang aneh di lingkungan kami tinggal, terlebih lagi saya bukanlah lulusan pesantren.  Tidak hanya sampai di situ, saya pun terbawa suasana jadi ikut rajin mengaji. Bahkan, terbersit dalam keinginan untuk menghafal Al-Qur’an. Sayangnya, saatitu masih belum bisa direalisasikan..

Setelah menikah, saya memanfaat waktu luang dengan menghafal Al-Qur’an di rumah. Dan ternyata, saya mempunyai kemampuan menghafal cukup cepat. Dalam satu tahun berhasil menghafal 10 juz. Sayangnya kemampuan itu menurun sangat drastis setelah melahirkan anak pertama. Namun sampai sekarang, semangat untuk menggeluti ayat-ayat Al-Qur’an masih ada dalam diri saya.

Ternyata apa yang saya lakukan waktu itu menginspirasi ayah saya. Beliau juga mulai menghafal Al-Qur’an di rumah. Beberapa tahun kemudian, beliau memasukkan adik perempuan saya ke pondok tahfiz putri. Sekarang dia sudah menikah dengan seorang laki-laki yang juga hafal Al-Qur’an. Dan saat ini, adik laki-laki saya sedang berkutat untuk ikut tes hafalan 30 juz yang disaksikan beberapa ustadz.

Jika mengingat masa lalu kami, sulit untuk percaya. Keluarga kami yang sangat jauh dari lingkungan agama, kini menjadi keluarga yang berkutat menghafal Al-Qur’an.

Hal ini, lagi-lagi mengingatkan saya pada cerita almarhumah nenek. Beliau bercerita tentang almarhum kakek waktu masih muda. Waktu masih muda, almarhum kakek menghafal Al-Qur’an bersama seorang teman. Berdua, mereka mendatangi seorang guru hafal Al-Qur’an, menempuh jarak puluhan kilo hanya dengan bersepeda.

Hingga suatu hari, teman kakek meninggal dunia. Karena tak ada teman dan merasa tak sanggup menempuh puluhan kilo sendiri bersepeda, akhirnya kakek memutuskan berhenti menghafal.

Saat mendengar cerita itu, hati saya pun terenyuh. Saya tak bisa membayangkan, bagaimana perasaan almarhum kakek saat itu. Usaha keras yang ditempuh puluhan kilo hanya bersepeda, tiba-tiba putus di tengah jalan. Tentu suatu kenyataan yang sangat pahit.

Tapi, Allah Maha Membalas setiap kebaikan. Allah tidak pernah mengabaikan harapan dan usaha hambanya. Mungkin beberapa waktu kemudian, kakek bisa melupakan mimpinya. Tapi, Allah telah mencatat mimpi itu.

Mungkin kakek, tidak bisa menjadikan anak-anaknya untuk melanjutkan mimpi besar itu, tapi Allah kuasa mengatur sesuati kehendak-Nya.

Saat mendengar cerita itulah, saya baru mengerti kenapa kehidupan kami tiba-tiba berubah arah. Ternyata, apa yang kami jalani saat ini adalah bagian dari mimpi kakek.

Allah pasti mengabulkan doa dan keinginan setiap hambanya. Tidak terkabul hari ini, mungkin besok adalah waktu yang lebih tepat.

Jangan pernah takut bermimpi sesuatu hal yang besar. Kita memang lemah, tapi kita punya doa yang didengarkan oleh Yang Maha Kuat. 

Subscribe to receive free email updates:

17 Responses to "Jangan Batasi Mimpimu, Walau Kakimu tengah Terikat"

  1. Replies
    1. Sama-sama melangkah..
      Terima kasih, Mbak ari tharifa

      Delete
  2. Inspiratif bgt.... Skrg anak lelakiku (7th) jg mulai menghafal Al Qur'an, baru dpt setengah juz ke 30, itu pun bacaannya blm terlalu baik, krn aku sendiri tdk menguasai tajwid dg baik, tp mdh2an usaha kami, meski terlalu sedikit dicatat menjadi amal kebaikan. Mhn doanya jg ya, 2 hari ini dia terserang demam, ujian kenaikan taekwondo pun tdk bisa di ikutinya, pdhl dia sudah berusaha keras latihan... huhuuu malah jadi curhat

    ReplyDelete
    Replies
    1. :)

      aamiin, dan semoga menjadi investasi awal untuk menjadikan keluarga penghafal Al-Qur'an.

      Delete
  3. Semangat dan doa kakek begitu kuat, dan kini sang cucu tercinta meraih impian itu. Subhanallah walhamdulillah....

    ReplyDelete
  4. Assalaamu'alaikum wr.wb, mbak Ummu Elnurien... kisah mbak dan keluarga sangat menginspirasikan saya dan anak-anak untuk menghafal al-Quran. Untuk menghafal perlu kepada jiwa yang suci dan bersih dari noda dan kotoran dalam pelbentuk perkara yang boleh memadamkan cahaya al-Quran. Semoga kebaikan itu akan menurun pula kepada keturunan kita sesudah kematian kita, ya mbak. Salam manis dari Sarikei, Sarawak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wa 'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh, Kak Siti Fatimah... aamiin..Mudahan Allah mudahkan dan istiqomahkan..

      Terima kasih, Kak..
      Salam manis balik dari sini, Banjarmasin.

      Delete
  5. kisah yg menarik.. sangat memotivasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga banyak yang bercita-cita menghafal Al-Qur'an..

      terima kasih Prajuritkecil. :)

      Delete
  6. Menyerahkan mimpi pada sang Maha ^^

    ReplyDelete
  7. amiin, tawakkal sm Allah dan biarkan tanganNya yg bekerja

    ReplyDelete
  8. betul mbak, jangan menyerah! keep on dreaming. wong dreaming gratis hehehe

    ReplyDelete
  9. Keren mba, bisa menghafal banyak juz al-qur'an.. salut banget :) Mimpi2 memang harus dipupuk tapi jangan terlalu terlena kalau tidak bs direalisasikan agar ngga stress memikirkan mimpi yg tak tercapai :)

    ReplyDelete

Tinggalkan jejakmu di sini :)
Maaf, mohon tidak meninggalkan link hidup di kolom komentar. Thanks.